Erick Thohir Bantah Gaya Ofensif Jokowi karena Elektabilitas

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin Erick Thohir (tengah), Gubernur Jawa Timur terpilih dan juga Ketua Dewan Pengarah Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan), Wakil Ketua JKSN Arum Sabil (kiri), Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qornain KH. Yazid Karimullah (ketiga kanan), saat Deklarasi JKSN, di Ponpes Nurul Qornain, Desa Balet Baru, Sukowono, Jember, Jawa Timur, Kamis 22 November 2018. ANTARA FOTO/Seno

    Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin Erick Thohir (tengah), Gubernur Jawa Timur terpilih dan juga Ketua Dewan Pengarah Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan), Wakil Ketua JKSN Arum Sabil (kiri), Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qornain KH. Yazid Karimullah (ketiga kanan), saat Deklarasi JKSN, di Ponpes Nurul Qornain, Desa Balet Baru, Sukowono, Jember, Jawa Timur, Kamis 22 November 2018. ANTARA FOTO/Seno

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf Amin, Erick Thohir membantah bahwa gaya kampanye ofensif calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi belakangan ini, gara-gara panik akibat elektabilitas yang tak kunjung naik alias mandek. “Faktanya, berdasarkan hasil riset lembaga survei resmi dan diakui KPU, selisih suara kedua pasangan minimal 20 persen,” kata Erick Thohir melalui keterangan tertulis, Rabu, 6 Februari 2019.

    Erick mengatakan hanya ada dua lembaga survei yang menyatakan selisih suara kedua pasangan calon tinggal satu digit, yakni lembaga Media Survei Nasional (Median) dan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis). "Namun, kita harus melihat track record.”

    Baca:Cocokkan Jadwal Jokowi, Erick Thohir Temui Pihak Istana

    Menurut pengusaha pendiri Grup Usaha Mahaka itu kubunya berkaca pada lembaga survei yang asosiasinya masuk ke KPU. “Lembaga survei yang diakui KPU itu memberi data kedua paslon itu bedanya masih 20 persen."

    Pada 2014, Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) memutuskan untuk mengeluarkan Jaringan Suara Indonesia (JSI) serta Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) dari keanggotaan Persepi. Pangkal masalahnya, kedua lembaga survei itu tidak bisa mempertanggungjawabkan publikasi hasil hitung cepat Pilpres 2014 bahwa Prabowo - Hatta unggul dengan selisih 1-2 persen suara.

    Jika survei Median dan Puskaptis itu hendak diakui, rata-rata selisih elektabilitas kedua pasangan calon, masih di angka 15-18 persen. “Jadi, aneh bila disebut Jokowi - Ma'ruf panik. Yang terjadi seharusnya adalah sebaliknya,” ujar Erick Thohir.

    Baca: Ma'ruf Amin Pasif Saat Debat, Erick Thohir: Sesuai Skenario

    Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai gaya menyerang Jokowi belakangan ini, tak lain sebagai bentuk kepanikan karena elektabilitas belum aman. Agar aman, sebagai inkumben elektabilitas Jokowi minimal 60 persen. Sedangkan Jokowi masih 53 persen. “Karena itu, Jokowi menggunakan strategi total football ala Barcelona," kata Adi Prayitno kepada Tempo pada Ahad malam, 3 Februari 2019.

    Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf mengklaim elektabilitas Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto masih terpaut 20,4 persen. Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto lebih optimistis ketimbang Erick Thohir. Hasto mengklaim posisi mereka sudah cukup aman untuk saat ini. "Di sosial media, posisi kami bahkan mencapai 59,9 persen," ujar Hasto Kristiyanto saat ditemui di bilangan Menteng, Jakarta pada Selasa, 29 Januari 2019.

    Survei TKN ini berbeda jauh dengan survei internal Badan Pemenangan Prabowo - Sandiaga. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, yang juga adik kandung Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, mengklaim hasil survei internal BPN menemukan selisih elektabilitas antara Prabowo - Sandiaga tak lebih dari 11 persen dengan Jokowi - Ma'ruf. "Ada yang 5 sampai 7 persen, ada yang 6 sampai 10 persen, dan ada yang katakan 7 sampai 11 persen."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.