Erick Thohir Sudah Hitung Efek Elektoral Gaya Ofensif Jokowi

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erick Thohir mengusulkan agar Indonesia fokus menghadapi pencalonan tuan rumah Olimpiade 2032 dalam acara diskusi olahraga yang digelar di Jakarta pada Senin 10 Desember 2018. (KOI)

    Erick Thohir mengusulkan agar Indonesia fokus menghadapi pencalonan tuan rumah Olimpiade 2032 dalam acara diskusi olahraga yang digelar di Jakarta pada Senin 10 Desember 2018. (KOI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf, Erick Thohir mengatakan bahwa kubunya telah memperhitungkan efek elektoral dari sikap calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi yang mulai menggunakan gaya ofensif belakangan ini. “Beliau hanya menyampaikan data dan fakta. Semuanya dilakukan dengan hitung-hitungan yang cermat.” Erick menyampaikannya melalui keterangan tertulis, Rabu, 6 Februari 2019.

    Gaya itu, kata Erick, tak terlepas dari hasil survei pascadebat pertama lalu. Debat tidak mempengaruhi pemilih militan yang sudah ada. Data pemilih Jokowi dari empat bulan lalu hingga seusai debat pertama berada di sekitar 54 persen. Begitupun pemilih Prabowo - Sandiaga di angka 31 persen. Sebanyak 82 persen pemilih menyatakan tidak akan mengubah lagi pilihannya.

    Baca: Erick Thohir Ingin Belajar Membangun Tanpa ...

    Jika mengutip data Lingkaran Survei Indonesia, ujar Erick, masih ada 18 persen pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters). “Mereka inilah yang kami coba tarik suaranya.”

    Bagi Jokowi - Ma'ruf, caranya adalah dengan menyampaikan fakta dan data sebenarnya atas hal-hal yang selama ini diputarbalikkan. “Ya misalnya, soal isu dan fitnah PKI lah, antek asing dan antek aseng lah," kata Erick Thohir.

    Baca: Erick Thohir: Saya Orang Pertama yang Mundur ...

    Kemarin, Presiden Joko Widodo atau Jokowi juga mengungkapkan alasan sering 'menyerang' lawan politiknya akhir-akhir ini. Menurut dia, gaya menyerang adalah hal lumrah dalam berkampanye. "Ya, kampanye, kan, perlu ofensif," kata Jokowi singkat seusai menghadiri peringatan ulang tahun Himpunan Mahasiswa Islam di Jalan Purnawarman Nomor 18, Jakarta, Selasa, 5 Februari 2019.

    Jokowi merasa saat ini sudah waktunya menyerang oposisi. Ia berdalih sejak awal memimpin Indonesia pada 2014, ia memilih bertahan dari serangan lawan. "Masa kami empat tahun disuruh diam saja. Ya, enggaklah. Empat tahun diem, masa disuruh diteruskan?"


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.