PARA Syndicate: Tren Elektabilitas Jokowi Turun, Prabowo Naik

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, tertawa bersama saat berbincang di sela acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, tertawa bersama saat berbincang di sela acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari lembaga kajian kebijakan PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, memaparkan hasil temuannya terkait tren elektabilitas Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019. Menurut Ari, dari himpunan beberapa hasil sigi lembaga survei, tren elektabilitas Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin cenderung menurun, sementara Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mengalami tren naik.

    Baca: Tim Jokowi Klarifikasi Strategi Menyerang Erick Thohir

    "Untuk Prabowo-Sandiaga trennya justru naik, meskipun sebetulnya tipis. Minusnya kecil sekali dan gradiennya juga kecil. Tapi trennya sudah terbaca, kecenderungannya Jokowi - Ma'ruf turun, Prabowo - Sandiaga naik," kata Ari dalam paparannya di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat 14 Desember 2018.

    Ari mengatakan, berbeda dengan survei, menurut Ari, dirinya justru meneliti hasil survei secara kualitatif. Data survei yang digunakan oleh Ari dalam menganalisa adalah survei-survei arus utama yang membagikan hasil surveinya dalam rentang waktu sejak Agustus hingga November. Alvara, LSI Denny JA, Y-Publica, Indicator, SMRC, Populi Center, Litbang Kompas, dan Median, adalah beberapa lembaga survei yang mendasari analisis Ari.

    Ari pun telah menghimpun beberapa alasan mengapa tren elektabilitas Jokowi - Maruf turun, sedangkan Prabowo - Sandiaga naik. Inkumben, kata Ari, memainkan strategi kampanye yang cenderung monoton dan linier, serta masih mudah terpancing dengan kerap meladeni serangan lawan.

    Baca: Sebulan Mejelang Debat Capres, Timses Jokowi Belum Persiapan

    Sedangkan oposisi diuntungkan karena strategi menyerang kerap menembus pertahanan inkumben. Sebagai oposisi, mereka pun dicap sebagai pembawa perubahan bagi kalangan yang tidak puas dengan kinerja Jokowi selama memimpin.

    "Karena sebagai penantang inkumben (Prabowo - Sandiaga) ter-branding sebagai pembaharu. Dan sebagai penantang mereka cukup efektif melancarkan strategi menyerang inkumben," ucap dia.

    Selain itu, kata Ari, ada pula faktor lain yang mempengaruhi, yakni calon wakil presiden. Ari mengatakan, sejauh ini Ma'ruf Amin dianggap belum bisa mengangkat elektabilitas Jokowi. Menurut dia, Jokowi sampai saat ini masih bermodalkan pendukung yang sama seperti pada Pilpres 2014 lalu, yakni di kisaran 52-53 persen.

    Sedangkan Sandiaga Uno diakui secara efektif mendongkrak elektabilitas Prabowo. Karena Sandiaga kerap melancarkan serangan darat dengan berkampanye ke berbagai daerah. Ditambah gaya berkampanye Sandiaga yang kerap berhasil memancing Jokowi untuk balas menimpali.

    "Yang menarik adalah gaya kampanye Sandiaga Uno yang rajin blusukan dan menguntit dan mengontes gaya Pak Jokowi, dengan rambut pete atau dengan tempe setipis ATM, ternyata Pak Jokowi pun menjawab," tutur dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbandingan Kebutuhan Pria dan Wanita akan Protein per Hari

    Penelitian DRI menyebutkan kebutuhan rata-rata pria akan protein sekitar 56 gram per hari. Mudahnya, dibutuhkan 0,8 gram protein per kg berat tubuh.