Tim Jokowi Klarifikasi Strategi Menyerang Erick Thohir

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi resmi mengumumkan nama Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) di Posko Cemara, Jakarta, Jumat, 7 September 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi resmi mengumumkan nama Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) di Posko Cemara, Jakarta, Jumat, 7 September 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf, Verry Surya Hendrawan, mengklarifikasi maksud Erick Thohir, ihwal pernyataan Ketua TKN itu yang menyebut akan mulai melakukan strategi ofensif atau menyerang dalam kampanye pemilihan presiden 2019.

    Baca: Kubu Prabowo Anggap Wajar Strategi Ofensif TKN Jokowi

    "Pernyataan Pak Erick soal langkah menyerang itu dalam perspektif narasi memenangkan kompetisi, bukan untuk menghancurkan lawan," ujar Verry lewat pesan suara via WhatsApp yang dikirimkan kepada Tempo pada Jumat, 14 Desember 2018.

    Menurut Verry, sejak awal timnya konsisten melaksanakan komitmen bahwa pilpres merupakan ajang kompetisi, bukan pertempuran. "Kami akan mengedepankan narasi positif, adu program, dan gagasan," ujar Verry.

    Sebelumnya, Erick Thohir menyatakan kubunya akan mulai bertindak ofensif saat berpidato dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Direktorat Hukum dan Advokasi di Hotel Acacia, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis 13 Desember 2018.

    Baca: Jokowi Dijadwalkan Bertemu Tim Kampanye Daerah di Banda Aceh

    “Karena kemarin kami sudah diserang, bahkan ada kampanye PKI (Partai Komunis Indonesia) segala, jadi mau tidak mau kita harus ofensif sekarang,” kata Erick Thohir.

    Erick menyebut, selama ini kubunya sudah cukup bersabar menghadapi isu PKI. Kasus e-KTP tercecer yang ditemukan dalam karung di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur, juga dikait-kaitkan dengan paslon 01 itu.

    Menurut Verry, keresahan Erick tersebut wajar karena pihaknya selalu dalam posisi disudutkan. "Jadi, narasi Pak Erick itu disampaikan untuk mendudukkan berbagai permasalahan dalam perspektif hukum. Perintah ofensif tersebut mohon dilihat dalam penegakan bersifat hukum," ujar Verry Surya Hendrawan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.