Tiga Ucapan Sandiaga yang Gunakan Gaya Politik Dumbing Down

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengunjungi kampung batik di salah satu sentra batik Pesindon, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa 25 September 2018. Dalam kunjungannya tersebut Sandiaga Uno menyampaikan harapannya agar pemasaran produk batik Pekalongan mendapat perhatian lebih dari kemitraan pemerintah dengan badan usaha setidaknya partisipasi sebanyak 20 persen dari pemerintah dan 80 persen dari pengusaha sehingga dapat dibuka lapangan usaha untuk perajin batik setempat. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengunjungi kampung batik di salah satu sentra batik Pesindon, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa 25 September 2018. Dalam kunjungannya tersebut Sandiaga Uno menyampaikan harapannya agar pemasaran produk batik Pekalongan mendapat perhatian lebih dari kemitraan pemerintah dengan badan usaha setidaknya partisipasi sebanyak 20 persen dari pemerintah dan 80 persen dari pengusaha sehingga dapat dibuka lapangan usaha untuk perajin batik setempat. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    1. Tempe Setipis ATM

    Celetukan tempe setipis ATM itu muncul saat Sandiaga bertemu wartawan di rumah pemenangan Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Tepatnya, ujaran itu dilontarkan pada Jumat, 7 September lalu. Kala itu, ia mengemukakan baru saja menerima keluhan dari ibu-ibu soal bahan pangan yang makin meroket. Salah satunya keluhan dari Yuli, warga Duren Sawit.

    Baca: Kampanye di Kantong NU, Sandiaga Uno Bawa Isu Perbaikan Ekonomi

    "Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM," kata Sandiaga saat itu. Tak khayal, celetukan ini menjadi viral dan banyak dibincangkan. Bahkan, sejumlah meme yang berkaitan dengan tempe ATM itu muncul di media sosial.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.