Kubu Prabowo Sebut Hitung Cepat Sihir Sains, PSI: Mengada-ada

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan jurnalis Andy Budiman berbicara kepada wartawan usai mendaftarkan diri sebagai bakal calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia di kantor Dewan Pengurus Pusat PSI, Jakarta, 20 Oktober 2017. TEMPO/Putri.

    Mantan jurnalis Andy Budiman berbicara kepada wartawan usai mendaftarkan diri sebagai bakal calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia di kantor Dewan Pengurus Pusat PSI, Jakarta, 20 Oktober 2017. TEMPO/Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta-Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Andy Budiman, mengatakan pernyataan anggota Pemenangan Nasional (BPN) Bachtiar Nasir bahwa hitung cepat sebagai sihir sains mengada-ada. Sebab, kata Andy, keakuratan hitung cepat sebagai metode ilmiah telah dipakai di berbagai belahan dunia. "Sudah ribuan quick count yang kita lakukan di Indonesia, hasilnya sangat bisa dipercaya," ujar Andy di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 April 2019.

    Sebelumnya, dalam orasinya kepada ratusan pendukung Prabowo-Sandi di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah, Rabu lalu, Bachtiar meragukan keakuratan dan metodologi ilmiah hasil hitung cepat yang memenangkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. “Emak-emak tak usah khawatir, karena quick count itu mengandung sihir sains, isinya kebusukan semua. Mereka adalah pelacur intelektual,” ujarnya.

    Baca: Alasan Jokowi Tak Rayakan Berlebihan Kemenangan Versi Quick ...

    Menurut Andy sistem hitung cepat malah bisa menjadi alat untuk mendeteksi kecurangan yang muncul dalam pemilu. Jadi, kata dia, tidak ada alasan menolak hitung cepat yang terbukti keakuratannya mendekati hasil pemungutan suara resmi. Ia malah mempertanyakan klaim BPN yang telah mendeklarasikan Prabowo-Sandiaga sebagai pemenang pilpres. "Tidak ada alasan untuk menyebut Pak Prabowo sebagai pemenang. Datanya mana, buktinya mana," ujar dia.

    Andy kembali mempertanyakan sikap BPN yang kerap menuding penyelenggara pemilu berbuat curang. Menurutnya berbagai tuduhan yang dilontarkan BPN itu sebagaian besar tidak ada bukti dan tanpa dasar yang jelas. "Hanya ekspresi ketidakmampuan mereka menerima kenyataan bahwa kandidat mereka kalah."

    Andy menilai Prabowo Subianto bersikap plin-plan dalam menerima hasil hitung cepat. Di Pilkada DKI 2017, Andy menyebutkan, Prabowo menerima hasilnya. Sebab calon yang diusung Prabowo kala itu, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dinyatakan menang melalui hitung cepat. "Kenapa sekarang ketika hasilnya berbeda, BPN mengatakan ada kecurangan," ucap dia.

    IRSYAN HASYIM

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.