Cerita WNI Gagal Mencoblos Pilpres 2019 di KBRI Malaysia

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga negara Indonesia mengantre untuk menggunakan hak suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) KBRI Kuala Lumpur di Malaysia, Ahad, 14 April 2019. Sebanyak 80 sehingga 90 persen dari 1,5 juta WNI di seluruh Malaysia mengikuti Pemilu serentak 2019. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman

    Sejumlah warga negara Indonesia mengantre untuk menggunakan hak suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) KBRI Kuala Lumpur di Malaysia, Ahad, 14 April 2019. Sebanyak 80 sehingga 90 persen dari 1,5 juta WNI di seluruh Malaysia mengikuti Pemilu serentak 2019. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Kondisi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia yang padat pemilih pada Ahad, 14 April 2019, membuat ada WNI yang gagal berpartisipasi di pilpres 2019. Seorang warga Tambora, Jakarta Barat, memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilihnya lantaran tertahan di pintu masuk KBRI.

    Baca: Nyoblos di Osaka, Ahok Mengaku Sempat Marahi Panitia Pemilu

    "Saya sendiri sampai tidak bisa masuk ke dalam kedutaannya. Terlalu padat dan disuruh ngantre," kata perempuan yang tak mau disebutkan namanya saat dihubungi Tempo, Ahad, 14 April 2019.

    Dia berujar, dirinya tiba di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Sesampainya di sana, perempuan berusia 33 tahun ini melihat massa telah memadati Jalan Jan Tun Razak. Menurut dia, banyak motor terparkir di sepanjang jalan depan KBRI.

    Di saat yang sama, sekitar ratusan orang terlihat berkumpul di seberang jalan dan berdiri di atas pembatas jalan. Mereka mengacungkan jari membentuk angka satu dan dua sembari meneriakkan nama kedua calon presiden, Joko Widodo serta Prabowo Subianto.

    Dia menceritakan, warga meluber hingga ke jalan lantaran pintu KBRI ditutup. Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) telah meminta warga untuk mengantre tanpa menginformasikan alasan pintu ditutup.

    Akan tetapi, barisan antre tak kunjung terbentuk. Kepadatan juga tampak di dalam halaman KBRI. "Antrean saja tidak tahu di mana. Sebentar disuruh diam, sebentar disuruh pindah karena halangin jalan. Capek bener, kepala pun jadi pusing."

    Dia mendapat kabar bahwa pintu KBRI akan dibuka pukul 15.00. Di sisi lain, perempuan ini berdomisili di Kota Rawang, yang berjarak sekitar 45 kilometer menuju KBRI. Perjalanan bisa memakan waktu sekitar satu jam. Jarak tempuh ini menjadi salah satu pertimbangan dia untuk tak menggunakan hak pilihnya.

    Selain itu, tidak ada kepastian apakah dirinya masih bisa mencoblos jika kembali lagi ke KBRI pukul 15.00 waktu Malaysia. "Tidak deh (mencoblos), saya tinggalnya jauh, bisa satu jam lebih untuk ke KBRI saja. Udah gitu macetnya bukan main," ucap dia.

    WNI yang tinggal di Malaysia melakukan pencoblosan pada Ahad, 14 April 2019. Terkonsentrasinya massa pemilih di KBRI karena dibatalkannya puluhan tempat pemungutan suara (TPS) pada Sabtu malam.

    Baca: Kasus Surat Suara Tercoblos di Malaysia Tak Pengaruhi Pemilihan

    Semula, tempat pemungutan akan dilakukan di 225 TPS yang tersebar di 89 titik lokasi. Namun, pembatalan membuat tempat menyalurkan suara hanya menyisakan 3 tempat, yakni KBRI Kuala Lumpur, Wisma Duta (Kediaman Dubes) dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.