Ungkit Soal Hoaks, Jokowi: Sabar Boleh, tapi Ada Batasnya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo saat menghadiri kampanye terbuka di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 12 April 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo saat menghadiri kampanye terbuka di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 12 April 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi kembali membahas bahaya kabar bohong atau hoaks yang merajalela saat penyelenggaraan pemilihan umum 2019 ini. Ia meminta masyarakat tidak mudah terhasut oleh hoaks yang terkait dengan dirinya.

    Baca juga: Begini Modus Kecurangan Pilpres di Malaysia

    "Saya ajak ke semuanya sekali lagi, dalam waktu tinggal 5 hari lagi, jangan sampai masyarakat goyah gara-gara fitnah, kabar bohong, hoaks, hasutan-hasutan. Ini yang harus diwaspadai betul," kata Jokowi saat mengikuti kampanye terbuka di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 12 April 2019.

    Jokowi mengatakan beberapa hoaks yang beredar selama masa kampanye adalah terkait akan diterbitkan untuk adzan dan diizinkannya pernikahan sesama jenis, jika ia kembali memerintah. Jokowi menegaskan hoaks semacam ini tidak masuk akal dan tak mungkin dilakukan.

    Selain itu, Jokowi mengatakan bahwa sebelum masa kampanye pun, ia kerap mendapat fitnah karena hoaks ini. Salah satunya adalah tuduhan bahwa ia adalah anggota PKI.

    "Saya sudah 4,5 tahun difitnah, dijelekkan, dicela, dibodohin, saya diam. Tapi menjelang pilpres ini harus dijawab, jangan didiamkan. Sabar boleh, tapi ada batasnya kesabaran, benar?" kata Jokowi.

    Baca juga: Jokowi Klaim Elektabilitas di Depok Seimbang dengan Prabowo

    Ucapan Jokowi langsung diiringi sorakan dukungan dari pendukungnya. Jokowi pun kemudian meminta pada para pendukungnya untuk ikut meluruskan jika mereka mendengar berbagai hoaks.

    Dalam kampanye itu, hadir pula Anggota Dewan Pengarah TKN Pramono Anung, Ketua Kamar Dagang Indonesia sekaligus anggota TKN Rosan Roeslani, hingga Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.