Jumat, 14 Desember 2018

Soal Kasus Ratna Sarumpaet, Sekjen PAN: Kami Ingin Tutup Buku

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama Presiden PKS Sohibul Iman dan Sekjen PAN Eddy Suparno setelah pertemuan di rumahnya di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 1 Maret 2018. Tempo/Arkhelaus W.

    Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama Presiden PKS Sohibul Iman dan Sekjen PAN Eddy Suparno setelah pertemuan di rumahnya di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 1 Maret 2018. Tempo/Arkhelaus W.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mengatakan emoh berkomentar lebih lanjut soal kelanjutan kasus hoax yang disebarkan mantan juru kampanye Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Ratna Sarumpaet.

    "Karena dia sudah mengaku berbohong, kami tidak mencari tahu lagi. Ini terlalu menyita waktu dan energi," kata Eddy saat dihubungi Tempo pada Jumat, 5 Oktober 2018.

    Baca: Ratna Sarumpaet Tersangka, Begini Ragam Reaksi dari Kubu Prabowo

    Kasus hoax Ratna, kata Eddy, memang sempat mengalihkan fokus kubunya. Ia juga mengatakan hoax yang dibuat Ratna bakal berdampak pada pertimbangan elektorat dalam waktu dekat ini. "Dampak pasti ada," ujarnya.

    Namun Eddy optimistis kejadian itu tidak akan mempengaruhi hasil pemilihan presiden 2019. Sebab, waktu berkampanye masih sekitar 5 bulan dan banyak hal yang bisa dilakukan kubu mereka dalam kurun waktu tersebut untuk kembali mengambil hati pemilih.

    Apalagi, kata Eddy, fokus masyarakat akan teralih dengan peristiwa lain dalam waktu dekat. Artinya, publik tidak akan ramai membicarakan soal peristiwa Ratna berlarut-larut. "Lagi pula usia berita kan tidak akan panjang. Kasus Mbak Ratna paling beritanya bertahan 2-3 minggu," ujarnya.

    Baca: Hoax Ratna Sarumpaet, PAN Pertanyakan Pemeriksaan Amien Rais

    Eddy juga mengatakan para pemilih, khususnya pemilih mengambang atau swing voter, yang punya pilihan tak pasti, tak bakal memutuskan tidak memilih capres Prabowo Subianto hanya karena kasus Ratna. Menurut dia, pemilih mengambang tidak akan memutuskan pilihannya terlalu dini.

    Saat ini, menurut Eddy, kubunya sudah mengalihkan pembahasan Ratna dengan isu-isu terhangat yang perlu ditindaklanjuti. Misalnya, kata dia, soal penanganan korban gempa di Palu dan Donggala. Selain itu, perihal dolar yang kian merangkak naik. "Sudahlah, kami ingin tutup buku," ujarnya.

    Kasus Ratna Sarumpaet diprediksi akan berdampak pada menurunnya elektabilitas Prabowo - Sandiaga. Peneliti LSI Rully Akbar berpendapat kepercayaan itu bisa kembali hanya bila keduanya mampu mengadakan program dan kegiatan yang menarik perhatian masyarakat. "Dalam waktu 5 bulan, mereka masih bisa membuktikan dengan program-program yang bagus," kata dia.

    Baca: Hoax Ratna Sarumpaet, Polisi Akan Panggil Lagi Amien Rais


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komitmen Antikorupsi Partai Politik Diragukan

    Partai-partai mengklaim berkomitmen antikorupsi melawan korupsi setelah para petingginya ditangkap KPK. Berikut empat di antaranya....