Senin, 24 September 2018

Sandiaga Uno Tolak Usulan Debat Pilpres Bahasa Inggris

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kiri) bersama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (kedua kiri) melayani makan gratis untuk <i>dhuafa</i> saat berkunjung ke PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat, 14 September 2018. ANTARA

    Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kiri) bersama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (kedua kiri) melayani makan gratis untuk dhuafa saat berkunjung ke PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat, 14 September 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno menolak usulan tim pemenangannya soal debat pilpres menggunakan bahasa Inggris. "Saya rasa enggak perlu ya. Ini pendapat pribadi saya," kata Sandiaga kepada awak media seusai berenang di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018.

    Baca juga: Kisah Sandiaga Kecolongan Erick Thohir Jadi Ketua Timses Jokowi

    Menurut Sandiaga, kontes sawala itu akan berlangsung efektif bila dilangsungkan menggunakan bahasa Indonesia. Sebab, audiensnya adalah warga Tanah Air dari berbagai lapisan. Eksistensi bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia, juga menjadi taruhannya.

    Usulan debat berbahasa Inggris pada petang lalu, 13 September, disampaikan oleh para elite partai koalisi pengusung Prabowo Subianto - Sandiaga Uno saat menggelar rapat rutin di Jalan Daksa, Jakarta Selatan. Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyatakan alasannya, yakni calon pemimpin negara akan berinteraksi dengan orang-orang dari semua negara. Juga, mereka bakal rutin terlibat pada forum internasional.

    Sandiaga tak yakin debat bahasa Inggris akan dicerna baik oleh warga. Isi debat itu pun akhirnya hanya bakal diterima oleh masyarakat kalangan tertentu.

    Baca juga: Sandiaga: Pengusaha Milenial Keluhkan Biaya Produksi Melambung

    Selain bahasa Inggris, tim pengusung Prabowo - Sandiaga menginginkan komisi pemilihan umum (KPU) memperpanjang durasi debat dari 3 menit menjadi 1 jam. Waktu tersebut dinilai akan mengakomodasi maksud gagasan para bakal calon presiden dan wakil presiden supaya dapat diterima oleh rakyat.

    Mengenai kampanye dengan model debat, Sandiaga Uno, menyarankan bukan mengganti durasinya, melainkan metodenya. "Urun rembug atau sarasehan saja. Saya merasakan debat itu aksi saling serang," ujarnya. Debat dikhawatirkan akan memperlebar jurang antar-kubu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep