Sabtu, 18 Agustus 2018

Koalisi Jokowi Sudah Tutup Pintu Bagi Partai Demokrat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto memberikan keterangan pers seusai pertemuan tertutup di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Dalam pertemuan tersebut, Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto memberikan keterangan pers seusai pertemuan tertutup di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Dalam pertemuan tersebut, Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy mengatakan partai koalisi Jokowi sudah menutup peluang bergabung untuk Partai Demokrat. Romy, sapaan akrab Romahurmuziy, menceritakan bahwa koalisi Jokowi sudah memberikan kesempatan kepada Demokrat sebelum pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan para petinggi partai koalisi di restauran Plataran Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis, 9 Agustus 2018.

    "Kami sudah memberi kesempatan sampai dengan tadi, sebelum di sini kami membahasnya dalam kesempatan yang lebih terbatas," kata Romy di Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Agustus 2018.

    Baca:
    Pertemuan Koalisi, Jokowi: Kalau Ada Mungkin Dadakan
    Jika Partai Koalisi Makin Gemuk, Jokowi: Asal Sehat Gak Apa-apa

    Romy mengungkapkan ada komunikasi terakhir dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, sebelum petinggi partai koalisi bertemu Jokowi. Namun, hingga pukul 14.00, koalisi belum mendapatkan sinyal dari Demokrat untuk be rgabung.

    "Dari Pak SBY bahwa masih 50 persen kemungkinan, tentu kami tidak bisa menunggu lagi. Ini injury time, malam terakhir sebelum pendaftaran.”Dua jam kemudian tanpa ada konfirmasi lagi, koalisi maka kita putuskan," katanya.

    Baca: Pertemuan Koalisi, Jokowi: Kalau Ada Mungkin Dadakan

    Majelis Tinggi Partai Demokrat rencananya akan menggelar sidang untuk menentukan arah koalisi mereka di pilpres 2019, pada Jumat pagi ini.

    Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief mengatakan partainya tak cocok dengan Gerindra. Melalui akun Twitternya, Andi Arief mengungkapkan alasannya. "Karena Prabowo dalam menentukan cawapresnya dengan menunjuk orang yang mampu membayar PKS dan PAN. Ini bukan DNA kami."

    Simak: Pintu Masih Terbuka untuk PAN di Koalisi Jokowi

    Orang yang dituding Andi mampu membayar PKS dan PAN adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Prabowo memutuskan maju bersama Sandiaga di pilpres 2019. Andi Arief bahkan menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus pada malam sebelum pengumuman cawapres.

    "Jenderal kardus punya kualitas buruk. Kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk meng-entertain PAN dan PKS." Andi Arief mencuit melalui akun Twitternya @AndiArief_, Rabu, 8 Agustus 2018 pukul 21.50. Ketika dikonfirmasi wartawan, Andi mempersilakan cuitannya untuk dikutip. Hingga tadi malam, belum ada keputusan Demokrat bergabung dengan Prabowo atau koalisi Jokowi.

    Simak: PAN Sudah Tutup Pintu, Tak Akan Bergabung ke Koalisi ...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.