Indikator Politik: Prabowo Gagal Maksimalkan Suara di Jabar

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berjabat tangan usai memberikan keterangan pers terkait hasil penghitungan suara Pilpres di kediamannya Kertanegara, Jakarta, 21 Mei 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berjabat tangan usai memberikan keterangan pers terkait hasil penghitungan suara Pilpres di kediamannya Kertanegara, Jakarta, 21 Mei 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa kekalahan calon presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno disebabkan kurang maksimal memanfaatkan lumbung suara mereka di Jawa Barat. Dari sigi yang Indikator Politik lakukan, perolehan suara Prabowo tak banyak berubah dibandingkan dengan pemilihan presiden pada 2014.

    Baca juga: Prabowo Kerap Berobat ke Swiss

    "Salah satu kunci kekalahan Pak Prabowo adalah di Jawa Barat Pak Prabowo gagal menaikkan suaranya dari 2014," kata Burhan dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Mei 2019.

    Prabowo-Sandiaga Uno meraih 16.077.446 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin mencatatkan 10.750.568 suara. Keunggulan ini tak jauh meningkat dari perolehan suara Prabowo di pilpres 2014 silam, yang unggul 59,78 persen.

    "Di Jawa Barat itu perolehan Pak Prabowo stagnan di angka 60 persen. Kalau di Jawa Barat Pak Prabowo bisa naik lebih tinggi lagi, mungkin Pak Prabowo bisa lebih kompetitif," kata Burhan.

    Jawa Barat merupakan salah satu dari tiga lumbung suara terbesar selain Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di dua lumbung suara lain, Jokowi sejak 2014 selalu unggul. Di pilpres tahun ini, meski jarang berkunjung ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, perolehan suara Jokowi justru meningkat. Hal ini, yang dinilai Burhan menjadi kunci kemenangan Jokowi.

    Hal ini dinilai Burhan cukup ironis. Pasalnya, baik Prabowo maupun Jokowi, sama-sama habis-habisan mendongkrak suara di lumbung suara lawannya. Burhan yakin jika kedua capres lebih serius menggarap lumbung suaranya masing-masing, perolehan suara yang didapat pasti lebih tinggi.

    "Ini menunjukan bahwa fenomena politik identitas, membuat masing-masing basis kedua paslon, itu mengalami proses polarisasi," kata Burhan.

    Polarisasi ini terlihat saat Jokowi yang habis-habisan menggarap Jawa Barat tapi hasilnya stagnan. Di Banten, daerah lumbung suara Prabowo. Meski calon wakil presiden pasangan Jokowi, Ma'ruf Amin adalah ulama asal Banten. Namun justru perolehan suara Jokowi turun dibanding 2014.

    Di Aceh, tahun ini Jokowi kalah telak dan terjadi penurunan suara besar dibanding 2014. Dari hasil penelitian Burhan, masyarakat sangat terpengaruh polarisasi agama yang terjadi, pasca aksi massa 2 Desember 2016 atau Aksi 212.

    Baca: Telepon Luhut, Prabowo Cerita Soal Cek Kesehatan di Luar Negeri

    "Ketika (masyarakat) saya tanya kenapa (pilih Prabowo), mereka menjawab karena Pak Jokowi dianggap melindungi Pak Ahok. Jadi (masalahnya) politik identitas lagi," kata Burhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ulang Tahun Jakarta 2019, Batavia Ditaklukkan Fatahillah 492 Lalu

    Dalam ulang tahun Jakarta 2019, warga Ibu Kota memperingati 492 tahun penaklukkan Fatahillah atas Batavia. Ini riwayat Jakarta sejak lima abad lalu.