Prabowo Klaim Raih 62 Persen, Demokrat: Jokowi Saja Tak Mungkin

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat pada Selasa, 14 Agustus 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat pada Selasa, 14 Agustus 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon menyebut siapa pun pasangan calon yang menang di pemilihan presiden 2019 ini tak akan mencapai suara di atas 60 persen. Hal ini disampaikan Jansen sekaligus menjelaskan kritik Demokrat terhadap apa yang mereka sebut sebagai setan gundul di koalisi pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

    Baca jugaPolitikus Demokrat Jelaskan Setan Gundul yang Dimaksud Andi Arief

    "Jangankan Pak Prabowo, Pak Jokowi saja kami katakan tidak mungkin menang di atas 60 persen di pilpres ini," kata Jansen melalui pesan, Jumat, 10 Mei 2019.

    Jansen menjelaskan, Jokowi tak mungkin meraih 60 persen suara lantaran banyak masyarakat yang tak puas dengan kinerja pemerintahannya. Dia juga mengungkit perolehan suara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ketika maju di pilpres 2009.

    Jansen menyebut kala itu masyarakat puas dan ingin pemerintahan SBY berlanjut. SBY juga menang di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Namun, perolehan suara nasionalnya hanya 60,80 persen. Angka itu, kata Jansen, menjadi rekor kemenangan pilpres di Indonesia hingga saat ini. "Jadi berdasarkan analisis di atas tidak mungkin kami katakan akan ada capres yang menang di atas 60 persen, apalagi 62 persen."

    Jansen berujar itulah alasan Demokrat mengkritik pihak yang menyuplai angka tersebut kepada Prabowo. Ketua Umum Partai Gerindra itu sebelumnya mendeklarasikan kemenangan dengan klaim meraih 62 persen suara berdasarkan hasil perhitungan manual atau real count yang dilakukan tim dan relawannya. Namun, tim Prabowo tak pernah membuka secara jelas bagaimana angka tersebut diperoleh.

    "Kami mengkritik setan gundul yang memberikan masukan itu ke Pak Prabowo, karena menurut kami sumber angka dan informasinya itu tidak jelas yang berakibat Pak Prabowo menjadi sesat karena masukan itu," kata Jansen.

    Istilah setan gundul pertama kali dilontarkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. Andi menyebut ada elemen setan gundul yang muncul dalam perjalanan koalisi pengusung Prabowo-Sandiaga Uno. Menurut dia, setan gundul ini tak rasional dan mendominasi koalisi.

    "Cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen," kata Andi Arief lewat akun Twitternya pada Senin, 6 Mei 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.