Pengamat: Anggota Koalisi Adil Makmur Mulai Tinggalkan Gerindra

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto bersama sekjen partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi di Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat, 19 April 2019. Dok Istimewa

    Prabowo Subianto bersama sekjen partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi di Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat, 19 April 2019. Dok Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai, berbagai manuver yang dilakukan oleh partai anggota koalisi adil makmur, menunjukkan bahwa ada upaya meninggalkan Gerindra yang masih larut dalam klaim-klaim kemenangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

    Baca juga: Situng KPU: PDIP-Golkar-Gerindra Sementara Tiga Besar Pileg

    Manuver yang dimaksud adalah saat Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bertemu Jokowi, lalu Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga bertemu dengan Jokowi, hingga kini ada pernyataan politikus PKS Mardani Ali Sera soal kampanye #2019gantipresiden telah usai.

    "Apa yang terjadi di barisan 02 ini? Barisan ini mulai tidak kompak. Tiga dari empat partai resmi pendukung 02 seolah mengambil jalan berbeda dengan BPN, lebih khusus lagi dengan Gerindra dan barisan ulama pendukung pasangan 02," ujar Ray Rangkuti kepada Tempo pada Senin, 6 Mei 2019.

    Rangkuti menilai, Demokrat, PKS, dan PAN seperti lebih memilih jalan menunda klaim kemenangan Prabowo-Sandi. Mereka juga terlihat tidak banyak mengkritik hasil situng KPU, yang diklaim 02 banyak kejanggalan.

    "Sekalipun secara legal, koalisi ini masih berlaku, tetapi secara faktual, mereka nampaknya telah mencari jalan sendiri-sendiri, meninggalkan Gerindra dan barisan ulama pendukung 02 pada keyakinan kemenangan mereka," ujar Rangkuti.

    Tindakan ini, ucap Rangkuti, juga menyiratkan ketidakyakinan akan klaim kemenangan yang sebelumnya mereka dengungkan. "Bahwa hasil quick count adalah hasil yang lebih dipercaya. Artinya, lambat tapi pasti, tiga partai ini lebih menyerahkan hasil pilpres pada perhitungan manual KPU dan berusaha menghindar dari klaim kemenangan," ujar Rangkuti.

    Sampai saat ini, memang Gerindra yang kencang mengkritik KPU. Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad sampai menyambangi kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum untuk melaporkan KPU atas dugaan kesalahan administrasi pada Kamis, 2 Mei 2019.

    Baca: Real Count KPU, Gerindra dan PKS Terpaut Tipis di DKI

    Keesokan harinya, giliran Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dan Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menyambangi kantor KPU untuk mendesak penghentian Situng KPU untuk sementara.

    Terkait dengan koalisi pendukung Prabowo, Sufmi sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya meyakini koalisi masih tetap solid. Hal itu disampaikan setelah adanya pertemuan AHY dengan Jokowi.

    "Kami masih yakin dan percaya bahwa Partai Demokrat dan partai koalisi lain masih tetap solid bersama Koalisi Adil Makmur," ujar Dasco di Kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Kamis, 2 Mei 2019.

    Menurut Dasco, pihaknya tidak bisa melarang pertemuan dari partai koalisi dengan pemerintah. Namun, dia tetap percaya partai politik di Koalisi Adil Makmur masih solid walaupun beberapa pimpinan partai tersebut mengadakan pertemuan dengan Jokowi. "Karena ini kan politik, dinamis dan itu hak politik dari masing-masing partai politik," kata dia.

    Catatan:
    Artikel berita ini telah diubah karena ada penambahan informasi untuk kelengkapan pada Senin, 6 Mei 2019, pukul 22.27 WIB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.