Di Jabar Jokowi Kalah Versi Hitung Cepat, Ini Alasan Ridwan Kamil

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ridwan Kamil ikut meramaikan Rapat Umum Rakyat bersama Jokowi menutup rangkaian kampanye Pemilihan Presiden 2019, Gelora Bung Karno, Sabtu 13 April 2019. Foto/TKN

    Ridwan Kamil ikut meramaikan Rapat Umum Rakyat bersama Jokowi menutup rangkaian kampanye Pemilihan Presiden 2019, Gelora Bung Karno, Sabtu 13 April 2019. Foto/TKN

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, perolehan suara hasil hitung cepat pemilu presiden 2019 calon presiden petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin tidak berbeda dengan hasil pemilu 2014 saat Jokowi mencalonkan diri bersama Jusuf Kalla.

    Berita terkait: Kubu Jokowi Andalkan Ridwan Kamil Gaet Suara di Jawa barat

    “Kelihatannya tidak jauh. Pak Jokowi tetap kalah di barat-barat (di antaranya) di Sumatera Barat, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Kuat di Jateng, Jatim, tetap menang di Jakarta, tetap kalah di Banten. Yang membedakan nanti cerita persentasenya,” kata dia di Bandung, Kamis, 18 April 2019.

    Ridwan Kamil mengaku masih belum tahu prosentase perolehannya. “Kalau disebut kalah, (ya) kalah. Tapi apakah sama, menipis, menguat, saya belm bisa mengambil kesimpulan. Saya kira dalam pesta demokrasi sesuatu yang wajar. Menandakan politik bukan matematik,” kata dia.

     Dia menguraikan bahwa hasil kerja keras selama empat tahun tidak berbanding lurus dengan elektabilitas. “Karena yang namanya demokrasi itu kesukaan. Kesukaan orang itu kadang-kadang tidak bisa diteorikan.”

    Ridwan Kamil mengatakan soal pilihan warga itu soal dinamika politik pemilihan langsung. Dalam sistem pemilihan one man one vote, kata dia, alasan memilih itu tidak selalu bisa diilmiahkan. Kata dia, antara pemiih rasional dengan pemilih emosional, ujungnya dihitung sama. “Ada yang mencoblos dengan penuh pertimbangan dengan segala teori, ada yang mencoblos dengan alasan sesaat.”

     Kendati demikian, Ridwan Kamil mengaku, masifnya berita bohong atau hoaks jadi kendala. “Ini belum di analisa, tapi dari bacaan saya dari beberapa pengamatan, seliweran hoaks ini luar biasa. Ukuranya, laporan yang masuk ke Jabar Saber Hoaks, itu 70 persen tentang pemilu. Menandakan intensitas berita bohong dan meresahkan itu volumenya tinggi,” kata dia.

    Ridwan Kamil mengingatkan agar pasca pemungutan suara, sembari menunggu hasil final perhitungan suara KPU, semua menahan diri. “Kita kembali hidup normal. Dunia terlalu indah untuk hanya dilihat dari sudut politik saja.”

    AHMAD FIKRI (Bandung)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.