Sindir Soal People Power, Megawati: Saya Pernah Kalah, Ndak Ribut

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri selesai mencoblos di bilik suara bersama kedua anaknya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani di TPS 62 Kebagusan. Dewi Nurita/TEMPO

    Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri selesai mencoblos di bilik suara bersama kedua anaknya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani di TPS 62 Kebagusan. Dewi Nurita/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menemui wartawan untuk konferensi pers singkat seusai mencoblos di tempat pemungutan suara atau TPS 62 Kebagusan, selama lima belas menit. Ia berangkat ke TPS itu berada tepat di depan rumahnya, bersama kedua anaknya.

    Baca: Soal People Power Amien Rais, Sultan HB X: Enggak Perlu

    Dalam kesempatan itu, Megawati menyindir pihak-pihak yang mengancam akan mengerahkan people power jika kalah dalam pemilihan 2019. Megawati menyebut, dirinya pernah kalah dalam pemilihan presiden 2009 silam. Dia mengaku bisa legowo menerima kekalahan itu.

    "Saya juga pernah ikut pemilihan presiden. Saat saya kalah, saya ndak ribut. Saya ajak makan-makan saja," ujar Megawati di kediamannya di bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan pada Rabu, 17 April 2019.

    Megawati mengatakan, apa pun hasil pemilihan presiden 2019 ini, dirinya meminta semua orang menerima hasilnya dengan legowo. "Apa pun hasilnya, kita riang gembira saja," ujar Megawati.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menambahkan, ucapan Megawati tersebut merupakan peringatan bagi pihak-pihak yang mengancam akan menggunakan people power jika kalah dalam pemilihan presiden 2019. "Maka dari itu, jangan ada ancaman people power. Itu yang diingatkan Ibu Megawati tadi. Mereka yang mengancam akan berhadapan dengan kekurangan rakyat itu sendiri," ujar dia.

    Istilah people power dilontarkan Amien Rais pada Ahad, 31 Maret 2019 saat aksi 313 di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta. Aksi 313 ini digelar untuk menuntut agar KPU menjalankan pemilihan umum 17 April 2019 dengan jujur dan adil.

    Baca: Amien Rais soal People Power: Ada Kecurangan Diam Berarti Pekok

    Amien mengatakan memilih people power ketimbang menggugat hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Sebab, bekas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini mengaku tak percaya dengan MK. "Kalau kami memiliki bukti adanya kecurangan sistematis dan masif, saya akan mengerahkan massa untuk turun ke jalan, katakanlah Monas, dan menggelar people power," kata Amien di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Senin, 1 April 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.