Jokowi Imbau Pendukungnya Jaga Ketertiban Saat Masa Tenang

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin berdoa didampingi Joko Widodo atau Jokowi, bersama kolasi partai pendukung  dalam Rapat Umum Rakyat Konser Putih Bersatu ditemani Ma'ruf Amin dan Jusuf Kalla di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 13 April 2019. TEMPO/Nurdiansah

    Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin berdoa didampingi Joko Widodo atau Jokowi, bersama kolasi partai pendukung dalam Rapat Umum Rakyat Konser Putih Bersatu ditemani Ma'ruf Amin dan Jusuf Kalla di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta 13 April 2019. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, mengimbau kepada para pendukungnya agar menjaga ketertiban di masa tenang menjelang pemilihan umum 2019. Ia juga meminta pendukungnya mengikuti aturan yang telah dibuat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

    Baca: Sanggah Pernyataan Prabowo, Jokowi: Indonesia Tidak Akan Bubar

    "Jangan lakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh KPU," katanya di Hotel Fairmont, Jakarta, Sabtu, 13 April 2019.

    Berdasarkan peraturan KPU, hari ini merupakan hari terakhir peserta pemilihan umum untuk berkampanye. Sedangkan mulai besok hingga dua hari ke depan memasuki masa tenang.

    Jokowi meminta para pendukungnya juga bisa menjaga rasa aman di tengah masyarakat. Harapannya warga yang telah memiliki hak pilih bisa menggunakannya pada 17 April mendatang.

    Baca: Pendukung Jokowi Panjat Tiang 20 Meter di Konser Putih Bersatu

    Mantan gubernur DKI Jakarta itu meminta pendukungnya untuk mengajak mengajak kerabat atau tetangganya untuk bersama-sama datang berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS). "Sehingga saat 17 April betul-betul seluruh masyarakat bisa gunakan hak pilihnya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.