Kubu Jokowi Akui Ada Dinamika Elektabilitas Menjelang Pencoblosan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01, Jokowi, berfoto dengan para pendukungnya di Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Selasa, 9 April 2019. Pada kesempatan ini, Jokowi menyampaikan beberapa hal terkait kebijakan bagi buruh dan pekerja. Istimewa

    Capres nomor urut 01, Jokowi, berfoto dengan para pendukungnya di Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Selasa, 9 April 2019. Pada kesempatan ini, Jokowi menyampaikan beberapa hal terkait kebijakan bagi buruh dan pekerja. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kubu calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi menolak untuk mengungkapkan hasil survei internal terkini paslon usungannya itu. Kendati demikian, Ketua Harian Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Moeldoko mengakui terjadi dinamika di lapangan, dalam sepekan menjelang hari-H pencoblosan pemilihan presiden 2019.

    Baca: Alasan TKN Jokowi-Ma'ruf Tak Publikasikan Hasil Survei Internal

    "Ya namanya dinamika, jadi seperti balon. Kami bermain seperti balon. Begitu daerah kami diserang, kami juga menyerang di sana. Di sana juga kempes, daerah kami juga kempes. Tergantung pandai-pandai mengelola," ujar Moeldoko saat ditemui di Rumah Aspirasi, Jakarta pada Selasa, 9 April 2019.

    Kendati demikian, Moeldoko membantah bahwa selisih elektabilitas Jokowi dengan Prabowo semakin menipis, bahkan sampai di angka 5,5 persen seperti survei teranyar Voxpol Center. "Enggak, 5 persen dari mana itu?" ujar Moeldoko.

    Sebelum-sebelumnya, kubu Jokowi selalu mengungkapkan berdasar survei internal, selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo berjarak sekitar 20 persen. Namun, sepekan menjelang hari-H pencoblosan, kubu Jokowi menolak berbicara selisih maupun angka. Moeldoko membantah bahwa hal tersebut dikarenakan karena TKN mulai tidak percaya diri atau pede akan kemenangan Jokowi di pemilihan presiden 2019.

    "Bukan enggak pede, tapi ada sesuatu yang terbuka, ada sesuatu yang perlu dirahasiakan. Karena itu berkaitan dengan strategi, kan begitu. Kalau semua terbuka, enggak menarik," ujar Moeldoko.

    Simak: Kampanye Akbar di Solo, Jokowi: Jawa Tengah Menentukan Kemenangan

    Kemarin, Direktur Kampanye BPN Sugiono menyampaikan, berdasarkan survei internal timnya, elektabilitas Prabowo mencapai angka 62 persen, sementara Jokowi hanya 38 persen.

    Angka tersebut diklaim merupakan hasil survei terbaru pada pekan lalu yang melibatkan 1.440 responden dari berbagai latar belakang di 34 provinsi. Adapun metode yang digunakan dalam survei, kata dia, tak berbeda jauh dengan metode lembaga survei pada umumnya. Kendati begitu, Sugiono tak menjelaskan secara detil berapa besar margin of error. Bahkan, survei juga tidak menunjukkan adanya swing voters maupun undecided voters.

    Moeldoko mengatakan, sah-sah saja jika kubu 02 mengklaim elektabilitasnya lebih unggul. Namun, untuk saat ini kubunya tidak ingin ikut saling klaim. "Nanti kan jadi subjektif. Kami tidak mau bicara subjektif," ujar dia.

    Baca: Survei Panel SMRC: Elektabilitas Jokowi - Ma'ruf Raih 57,3 Persen

    Dia tetap optimistis bahwa 01 akan menang dengan berbagai strategi yang dimiliki kubu 01. "Kami bekerja bukan asal-asalan, kami punya strategi, cara bekerja yang tertata dengan baik, dan kami juga bisa memonitor perkembangan day by day dan daerah per daerah. Kami punya tools-nya," ujar Moeldoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.