Kata Sandiaga Uno Soal Dana Pribadi untuk Kampanye Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno berorasi dalam kampanye akbar di Stadion Utama GBK, Jakarta, Ahad, 7 April 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno berorasi dalam kampanye akbar di Stadion Utama GBK, Jakarta, Ahad, 7 April 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden bernomor urut 02 Sandiaga Uno mengaku ikhlas mengeluarkan dana pribadi dalam jumlah banyak untuk kampanye. Bahkan, uang yang dikeluarkannya disebut-sebut sudah mencapai Rp 1,4 triliun. Ia beralasan upaya yang dilakukan itu demi menuju Indonesia adil dan makmur.

    Baca juga: Media Prancis Telusuri Fakta Soal Isu Erdogan Dukung Prabowo

    “Kebetulan kami berjuang, berapun yang diperlukan Insya Allah kami ikhlas,” kata dia usai berkampanye di GOR Ki Mageti, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Senin, 8 April 2019.

    Menurut dia, dana besar yang dikeluarkan merupakan bagian dari perjuangan yang ditujukan untuk ibadah. “Semua (harta) yang saya dapatkan merupakan amanah dari Allah. Dan ini bagian dari perjuangan dengan harta,” ujar bekas Wakil Gubernur DKI Jakarta ini kepada sejumlah jurnalis yang mencegatnya.

    Selain dari dana pribadi, pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno juga menyumbangkan dana. Dalam kampanye di GOR Ki Mageti, Magetan sumbangan itu diberikan Gerakan Milineal Indonesia (GMI) dan Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo – Sandi (Pepes).

    Sandiaga menyatakan, sumbangan yang diberikan itu merupakan bentuk aspirasi masyarakat yang menginginkan perubahan sikap politik selama ini. Jika sebelumnya, ia melanjutkan, masyarakat menerima uang dari kandidat peserta pemilu namun kali ini berubah sebaliknya.

    “Hal ini menyentuh hati kami. Ini konsep politik baru bahwa masyarakat berjuang untuk keadilan dan kemakmuran,” ujar dia.

    Sebelumnya, Komunitas Pemerhati Indonesia (Kopi) merilis adanya dugaan aliran dana kampanye dari perusahaan asing kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

    “Kami mendapati penelusuran dari Juli 2018 – Maret 2019 menemukan adanya aliran dana  dari perusahaan asing mengucur pada pasangan 02,” kata Dwie, tim investigasi Kopi dalam diskusi Mendeteksi Dana Kampanye Pemilu 2019 di Upnormal Coffee, Jakarta, Senin, 8 April 2019.

    Ridwan, tim investigasi Kopi, mengungkapkan aliran dana asing diduga kuat masuk ke enam rekening pribadi Sandiaga Uno di Bank Permata yang bersumber dari tiga perusahaan asing menjelang Pilpres 2019.

    Perusahaan tersebut di antaranya Uno Capital Holding INC, Ace Power Investment Limited, dan Reksadana Schrodee USD Bond Fund. "Total dugaan aliran dana asing yang masuk ke rekening Sandi Rp 276 miliar. Aliran dana asing masuk ke rekening pribadi Sandiaga dan diduga mengalir ke sejumlah rekening yang diduga sebagai dana kampanye," ujar Ridwan.

    Ridwan merinci, dari data yang didapat Kopi, aliran dana asing yang pertama diduga bersumber dari Uno Capital Holdings INC pada 28 Agustus 2018 sebanyak satu kali transaksi senilai Rp 51,9 miliar. Keterangan pada transaksi tersebut adalah external investment ittI80804*** dari Bank LGT Bank Singapore LTD. Perusahaan Uno Capital Holdings diduga dimiliki Sandiaga, Asia Abdul Aziz, dan Attica Finance Ltd.

    Selanjutnya, dari Ace Power Investment Limited pada 20 Juli 2018 sebanyak satu kali dengan nilai transaksi sejumlah Rp 1,2 miliar. Kemudian dari reksadana Schroders USD Bond Fund pada 31 Oktober dan 15 November 2018 sebanyak dua kali transaksi sejumlah Rp 223 miliar. PT Schroders Investment Management Indonesia, kata Ridwan, merupakan perusahaan manajer investasi yang 99 persen sahamnya dimiliki grup Schroders yang berpusat di Inggris.

    Ridwan menilai temuan Kopi bisa jadi benar seperti pernyataan yang pernah disampaikan Sandiaga, bahwa total dana kampanye yang dihabiskan dari uang pribadinya sebesar Rp 1,4 triliun. Padahal, dalam laporan penerimaan sumbangan dana kampanye, dana yang dihabiskan pasangan nomor 02 sampai Maret 2019 sebesar Rp 149,6 miliar.

    Baca juga: Orasi di Kampanye Akbar, Sandiaga Singgung Persoalan Ekonomi

    Direktur Luar Negeri Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Irawan Ronodipuro, mengaku tidak mengetahui kabar adanya aliran dana asing yang diduga sebagai dana kampanye ke sejumlah rekening calon wakil presiden nomor 02, Sandiaga Uno. "Saya tidak tahu dari mana tersiarnya. Laporan resmi (dana kampanye) sih sudah di KPU," kata Irawan saat ditemui di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin, 8 April 2019.

    Irawan mengatakan bahwa BPN hanya memegang data mengenai sumber-sumber penerimaan dana kampanye Prabowo-Sandiaga yang resmi dilaporkan ke Komisi Pemilihan Umum. Direktur Kampanye BPN Sugiono juga mengaku baru dengar adanya informasi dugaan aliran dana asing tersebut. "Saya tidak tahu. Saya malah baru dengar ini," kata Sugiono.

    Melalui suratnya kepada redaksi pada 10 April 2019, Presiden Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia Michael T. Tjoajadi menegaskan bahwa Schroders ataupun anak perusahaannya tidak pernah berkontribusi dalam kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. "Schroders memiliki kebijakan global untuk tidak berkontribusi pada kegiatan politik apapun," kata Michael.  

    Selain itu, Schroders juga memastikan bahwa mereka tidak memberikan komentar mengenai individu, baik nasabah atau bukan. "Apa yang dilakukan seorang individu terhadap pencairan investasinya, adalah sepenuhnya hak individu tersebut untuk menentukan, dan tidak memiliki keterkaitan apapun dengan Schroders maupun anak perusahaannya," kata Michael lagi. 

    CATATAN REDAKSI: Naskah berita ini diubah pada Jumat 12 April 2019, untuk memasukkan bantahan dari Schroders Indonesia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.