KSPI Klaim 70 Persen Buruh Anggotanya Pilih Prabowo - Sandi

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi demo buruh. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi demo buruh. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengklaim 70 persen buruh yang disurvei lembaganya mendukung pasangan calon presiden 02 Prabowo - Sandiaga Uno. Said mengatakan survei itu dilakukan di 140 kabupaten/kota industri di 30 provinsi selama Januari hingga Maret 2019.

    "Dari kuesioner yang kami sebarkan, tujuh puluh persen mendukung Prabowo - Sandiaga," kata Said di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis, 4 April 2019.

    Baca: Prabowo Hadiri Acara HUT FSPMI ke-20

    Said mengatakan survei itu tak dilakukan oleh surveyor profesional, melainkan jejaring KSPI di daerah-daerah. Menurut dia sekitar 25 ribu kuesioner disebar melalui email. "Kalau saya enggak salah yang balik hampir sepuluh ribu kuesioner."

    KSPI sejak awal mendukung Prabowo lantaran menilai ada kesamaan visi. KSPI juga telah meneken kontrak politik dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu. Kontrak politik itu dinamai Sepultura, Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat.

    Baca: Dukung Jokowi - Ma'ruf Amin, KSPSI Siap Menangkan 70 Persen Suara

    Salah satu isi perjanjian itu ialah pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dan menambah daftar kebutuhan hidup layak dari 60 item menjadi 84 item. "Juga menghapus outsourcing, dan sebagainya."

    Said mengatakan sekitar 10 ribuan buruh akan menghadiri kampanye akbar Prabowo - Sandi di Stadion Utama GBK pada Ahad, 7 April 2019. Mereka akan datang dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. "Mereka ingin menjadi bagian dari pidato kebangsaan capres yang tanda-tandanya mau menang."



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.