Deddy Mizwar: Menangkal Hoaks Butuh Iman dan Nalar Kritis

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden Ma'ruf Amin bersama Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Moeldoko dan politikus Partai Demokrat Deddy Mizwar di Rumah Cemara, Jakarta, 1 September 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    Calon wakil presiden Ma'ruf Amin bersama Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Moeldoko dan politikus Partai Demokrat Deddy Mizwar di Rumah Cemara, Jakarta, 1 September 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin, Deddy Mizwar, mengatakan, untuk menangkal hoaks masyarakat membutuhkan nalar kritis dan iman dalam diri masing-masing. Ia pun mengimbau agar masyarakat aktif mencari informasi, mencari kebenaran sebuah berita.

    Baca juga: Jokowi: Hati-hati, Hoaks Sudah Muncul dari Pintu ke Pintu

    “Saya mengimbau semua masyarakat, dengan sedikit mau berpikir kritis dan sedikit iman dalam diri, insya Allah terhindar dari hoaks,” kata Deddy dalam acara Gerakan Tangkal Hoax di Media Center Jokowi - Ma’ruf, Jakarta, Kamis 4 April 2019.

    Ia menyebut, untuk melawan hoaks, tidak bisa dengan menyebarkan hoaks yang lain. Namun, dia menambahkan, tidak pula dengan berdiam diri. Menurut dia, perlu aktif mencari informasi agar terhindar dari kabar bohong.

    Deddy mengatakan, dengan keterbukaan informasi, seharusnya tidak sulit bagi masyarakat mencari informasi. “Saya kira dengan mendapatkan akses, sedikit saja berpikir, dan bekerja (mencari informasi), sudah dapat itu semua,” tuturnya.

    Ia mengatakan, bila pihak yang menyebarkan hoaks menang, ia tak bisa membayangkan bagaimana pemerintahan yang dibangun dari fitnah. Bisa jadi, kata dia, masyarakat yang bersebrangan dengan kekuasaan, suatu hari dapat difitnah. "Negara seperti apa ke depan? Saya tidak bisa bayangkan itu,” kata dia.

    Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat ini, mencontohkan akibat hoaks, cawapres 01, Ma’ruf Amin, sampai dihadang saat hendak berziarah di Madura. Menurut dia, Ma’ruf adalah ulama, bagaimanapun juga seharusnya dihormati. Namun, di beberapa tempat budaya tersebut terkikis oleh hoaks.

    “Ulama yang sangat dihormati dibegitukan. Ini sudah keluar dari adab. Bayangkan dampak dari hoaks tersebut,” ucap Deddy Mizwar.

    Isu hoaks belakangan ini lebih banyak merusak. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut, mendekati Pemilu 2019, Maret lalu, sebaran hoaks mencapai 453 hoaks.

    Baca: TKN: Seruan Antihoaks dan Antigolput Jokowi Efektif Raih Simpati

    Pada debat keempat, 30 Maret lalu, capres 01 dan capres 02 mengungkapkan mereka sama-sama diserang hoaks. Prabowo menyebut dirinya kerap diserang isu ingin mendirikan khilafah. Sedangkan Jokowi menyebut dirinya sudah lama diterpa isu anggota Partai Komunis Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.