Mengukur Kekuatan Narasi Politik Jokowi Vs Prabowo

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, dalam debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019. Diedit dari ANTARA

    Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, dalam debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019. Diedit dari ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah 10 hari kampanye terbuka pemilih presiden berlangsung, sejak 24 Maret 2019. Sejumlah titik telah didatangi dua calon presiden yang berlaga di pemilihan presiden 2019, Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto. Keduanya membawakan narasi yang berbeda di tengah masyarakat.

    Baca: 5 Alasan Elektabilitas Jokowi Ungguli Prabowo Versi LSI Denny JA

    Lalu seperti apa kekuatan narasi politik dua calon presiden ini meyakinkan masyarakat?

    Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai, narasi politik Jokowi dan Prabowo sama-sama kuat. Jokowi tetap dengan narasi lama soal klaim kesuksesan membangun bangsa. Sedangkan, Prabowo konsisten menarasikan diskursus lama tentang kegagalan Jokowi memerintah selama ini.

    "Jokowi mengglorifkasi infrastruktur, KIP (Kartu Indonesia Pintar), KIS (Kartu Indonesia Sehat) itu efektif. Jika mayoritas rakyat merasakan program-program itu, otomatis (Jokowi) akan terpilih kembali. Faktor rasionalitas pemilih akan menjadi penentu kemenangan Jokowi," ujar Adi Prayitno saat dihubungi Tempo pada Selasa malam, 2 April 2019.

    Sementara itu, narasi Prabowo yang menuding kemiskinan masih banyak, orang menganggur signifikan, harga-harga sembako mahal sehingga emak-emak kesulitan, nilai tukar rupiah anjlok, utang menumpuk, dan seterusnya, merupakan suatu narasi antitesis terhadap klaim sukses Jokowi.

    "Jika mayoritas rakyat merasa hidupnya makin susah, negara salah urus, dan ekonomi tak stabil, maka Prabowo sebagai penantang yang menjanjikan perubahan berpeluang menang," ujar dia.

    Baca juga: Indo Barometer: Mayoritas Pemilih Tak Kenal 3 Kartu Sakti Jokowi

    Menurut Adi, narasi dua capres ini sama kuatnya, tergantung bagaimana konsolidasi isu tersebut diterjemahkan ke level pemilih yang bisa dikonversi menjadi dukungan suara. "Dua minggu waktu tersisa harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meyakinkan pemilih dengan serangan darat dan serangan udara secara seimbang," ujar dia.

    Jika mengikuti kampanye terbuka Jokowi dan Prabowo, narasi dua paslon ini memang sangat berbeda. Jokowi fokus menyampaikan empat hal. Pertama, dia mengimbau masyarakat untuk tak percaya akan berbagai isu miring dan hoaks yang menyerang dirinya. Kedua, Jokowi menyampaikan capaian-capaian pembangunan infrastruktur dan menjanjikan percepatan penyelesaian. Ketiga, Jokowi menjanjikan tiga kartu yakni Kartu Sembako Murah, KIP Kuliah, dan Kartu Pra-kerja. Terakhir, Jokowi mengimbau masyarakat untuk tidak golput dan meminta pendukungnya datang ke TPS mengenakan baju putih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?