Kubu Jokowi Janji Perkuat Diplomasi buat Tarik Investasi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01, Jokowi (kedua kiri) didampingi Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (kiri), Bendahara Partai Hanura Zulnahar Usman (kedua kanan) dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memperlihatkan contoh surat suara Pilpres 2019 saat Kampanye Terbuka di Serang, Banten, Ahad, 24 Maret 2019. ANTARA/Asep Fathulrahman

    Capres nomor urut 01, Jokowi (kedua kiri) didampingi Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (kiri), Bendahara Partai Hanura Zulnahar Usman (kedua kanan) dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memperlihatkan contoh surat suara Pilpres 2019 saat Kampanye Terbuka di Serang, Banten, Ahad, 24 Maret 2019. ANTARA/Asep Fathulrahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo atau Jokowi dan Ma’ruf Amin, berjanji bakal memproteksi produk dalam negeri di tengah perang dagang internasional yang melibatkan Cina dan Amerika Serikat.

    Baca: Beda Kubu Prabowo dan Jokowi Soal Bagi-bagi Kursi Menteri

    Direktur Penggalangan Pemilih Muda Tim Kampanye Nasional, Jokowi-Ma’ruf, Bahlil Lahadalia, mengatakan Indonesia akan mengandalkan industri pengolahan bahan baku untuk menggenjot produk berorientasi ekspor. “Tidak mungkin negara ini maju hanya dengan mengandalkan industri bahan baku. Politik luar negeri ke depan adalah membangun industri dalam negeri untuk siap berekspansi,” kata dia kepada Tempo, di Jakarta, Jumat, 29 Maret 2019.

    Bahlil mengatakan kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif tak menutup negara lain untuk masuk ke Indonesia. Posisi ini membuat Indonesia memiliki kebebasan untuk menjalin diplomasi dengan negara mana pun. Ia tak khawatir terhadap dampak perang dagang AS dan Cina selama angka ekspor dan impor masih seimbang. “Kami tinggal melihat mana yang menguntungkan Indonesia. Sistem ekonomi sudah terbuka, tetapi juga memproduksi produk dalam negeri,” kata ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) itu.

    Bahlil mengaku sektor ini berpotensi diserang lawan politik Jokowi lantaran neraca perdagangan Indonesia yang defisit. Namun, menurut dia, defisit itu masih berimbang dengan pertumbuhan industri yang dipicu kebutuhan impor barang-barang produksi. “Setelah itu, produk kita bisa melakukan penetrasi ke luar negeri,” ucap dia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Januari 2019, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 1,16 miliar dengan nilai impor mencapai US$ 15,03 miliar dan nilai ekspor mencapai US$ 13,87 miliar.

    Baca: Polri Telusuri Percakapan WA Anggotanya untuk Menangkan Jokowi

    Penguatan industri dalam negeri ini, menurut Bahlil, bakal beriringan dengan langkah pemerintah untuk melakukan diplomasi ekonomi. Menurut dia, hal ini dilakukan untuk menembus pasar dunia, sembari melakukan kompromi politik di organisasi perdagangan dunia, seperti World Trade Organization. Hal ini sempat terjadi ketika Uni Eropa memblokir produk sawit asal Indonesia pada pertengahan 2018. “Indonesia mempunyai kepentingan untuk memasarkan produknya ke luar negeri,” kata Bahlil.

    Isu perang dagang antar-negara diperkirakan mengemuka dalam debat calon presiden antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto malam ini. Selain menyoal hubungan internasional, tema debat putaran keempat tersebut meliputi persoalan pemerintahan, ideologi, hubungan internasional, serta pertahanan dan keamanan.

    Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Tubagus Ace Hasan Syadzily, mengakui situasi ekonomi global tak menguntungkan Indonesia. Di samping memperkuat diplomasi ekonomi, kata Ace, kubu Jokowi bakal berfokus untuk mencari pasar baru, dan memperkuat infrastruktur kerja sama bilateral untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia melalui negosiasi baru. “Diplomasi diarahkan untuk melindungi kepentingan strategis produk kelapa sawit Indonesia yang terus menjadi target kampanye hitam di beberapa negara,” ucap politikus Partai Golkar itu.

    Selain itu, Ace mengatakan, pihaknya bakal mendorong adanya kerja sama maritim untuk menjaga stabilitas kawasan. Menurut dia, Indonesia perlu memastikan agar kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik tidak menjadi sumber perebutan sumber daya alam, pertikaian wilayah, dan supremasi maritim. “Indonesia mengembangkan konsep kerja sama Indo-Pasifik,” kata dia.

    Baca juga: Erick Thohir: Kalau Jokowi Menang, Saya Tak Masuk Kabinet

    Adapun peneliti bidang hubungan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS), Andrew Wiguna Mantong, mengatakan kebijakan Jokowi untuk melakukan ekspansi industri dalam negeri akan menjadi sorotan dunia internasional. Ia berharap Jokowi menjelaskan keuntungan dan kerugian globalisasi. “Pentingnya perdagangan internasional, produksi, sama mobilitas manusia, harus bisa dijelaskan langsung karena ini berpengaruh pada kepercayaan komunitas internasional,” kata Andrew.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | ARKHELAUS WISNU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?