Jokowi - Ma'ruf Amin Kampanye Kreatif, Ini Teknologi yang Dipakai

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Contoh hologram kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin. Foto: Istimewa

    Contoh hologram kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari pertama kampanye terbuka dimulai, calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi menjanjikan bahwa kubunya akan segera memperkenalkan kampanye kreatif. Kreativitas yang dimaksud itu di antaranya adalah menyapa calon pemilih melalui telepon dan memanfaatkan teknologi hologram untuk berkampanye.

    Teknologi hologram yang menampilkan tokoh Jokowi dan Ma'ruf Amin itu, baru diluncurkan oleh calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin, di Lebak, Banten, Senin malam, 25 Maret 2019. "Hologram ini buatan anak bangsa sendiri, yang akan mulai tayang malam ini." Ma'ruf menyampaikannya melalui keterangan tertulis pada Senin malam, 25 Maret 2019. Hologram ini akan hadir di mana-mana.

    Baca: Usai Kampanye di Malang, Jokowi Ngopi Seharga Rp 4000 per Gelas

    Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Erick Thohir mengatakan hologram ini akan diusung dalam satu panggung bergerak yang diangkut dengan truk, dan bisa dibuka tutup secara cepat dalam hitungan jam dan dipindahkan ke lokasi lain yang diinginkan.

    Selama masa kampanye terbuka, truk itu sekaligus akan disulap menjadi panggung hiburan. Ketika dioperasikan, seolah-olah nyata, muncul sosok Jokowi dan Ma'ruf Amin di hadapan orang yang melihatnya. 

    Baca: Jokowi Ajak Pendukungnya Datang ke TPS Berbusana Putih

    Hologram dengan tampilan sosok Jokowi dan Ma'ruf Amin itu pun kemudian akan berpidato. Beberapa topik akan disampaikan.

    Dua topik utama yang disampaikan lewat hologram itu, persis seperti yang disampaikan Jokowi dalam orasinya saat kampanye terbuka yang telah berlangsung selama dua hari ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.