Sindir Doa Neno Warisman, Ma'ruf Amin: Pilpres Bukan Perang Badar

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah Ma'ruf Amin menyampaikan pidato kunci dalam seminar Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Keuangan Islam di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu 13 Februari 2019. Seminar yang diadakan oleh Komunitas Profesional Peduli Teknologi Keuangan dan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia tersebut bertujuan untuk memberikan informasi secara menyeluruh terkait kesiapan keuangan syariah di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah Ma'ruf Amin menyampaikan pidato kunci dalam seminar Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Keuangan Islam di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu 13 Februari 2019. Seminar yang diadakan oleh Komunitas Profesional Peduli Teknologi Keuangan dan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia tersebut bertujuan untuk memberikan informasi secara menyeluruh terkait kesiapan keuangan syariah di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyindir doa yang dipanjatkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 di Monas, Jakarta, 21 Februari 2019. Menurutnya, doa Wakil Ketua Umum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga tersebut tak layak dipanjatkan, karena kondisi Indonesia tak sedang dalam keadaan perang.

    Baca juga: Puisi Lengkap Neno Warisman di Acara Munajat 212

    Ma'ruf menyimpulkan doa Neno mirip dengan doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar. Ketika itu, menurut Ma'ruf, umat Muslim bertempur habis-habisan karena kalah jumlah dengan kaum kafir. Ia menilai pilpres saat ini berbeda dengan Perang Badar. "Pilpres kok disamakan dengan Perang Badar. Perang Badar itu antara Islam dengan kaum kafir. Itu perang hidup mati membela agama. Pilpres itu cari pemimpin terbaik. Pilpres tak sama dengan Perang Badar," kata Ma’ruf lewat keterangan tertulis pada Selasa, 26 Februari 2019.

    Ia menyayangkan Neno Warisman yang mengklaim kelompoknya paling Islam. Sedangkan kelompok Jokowi - Ma'ruf dianggap lawan umat Muslim alias kafir. Hal ini dirasakannya tidak etis. "Mereka menisbahkan kelompok mereka Islam dan kelompok Jokowi - Amin sebagai kafir. Doa itu tak layak dan tidak pantas,” ujar dia.

    Ia berharap emosi masyarakat tak terpancing akibat doa tersebut. Ma'ruf Amin khawatir doa Neno menimbulkan gejolak di masyarakat. “Jangan sampai masyarakat terprovokasi, mudah-mudahan doanya (Neno) tidak mabrur. Kalau sekarang doanya tepat minta pilpres aman Insya Allah doanya dikabul," ujar Ma’ruf.

    Sebelumnya, kutipan doa Neno Warisman viral dalam sebuah video di media sosial usai acara Munajat 212 di Monas, Kamis pekan lalu. Dalam potongan doa tersebut, Neno Warisman menyebut "Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan tak menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu."

    Baca juga: Politikus PKB: Doa Neno Warisman Puncak Kebohongan Kubu Prabowo

    Sebelumnya, Ma'ruf juga menyatakan keberatan dengan narasi perang Badar yang dibawakan Neno Warisman dalam doanya di acara munajat cinta 212 Kamis pekan lalu itu. "Masa pak Jokowi (Joko Widodo) dengan saya dianggap orang kafir? Itu sudah tidak tepat, menyayangkan lah, kita kan pilpres, bukan perang Badar," ujar Ma'ruf Amin usai mengisi acara istighosah di Mall Palem Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu, 23 Februari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.