Luhut Panjaitan: Kampanye Hitam di Karawang Bentuk Kepanikan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan seusai memberikan keterangan di kantor Badan Pengawas Pemilu, Jakarta, Jumat, 2 November 2018. Luhut memberikan keterangan terkait pose satu jari dalam penutupan forum IMF di Bali beberapa waktu lalu. TEMPO/Syafiul Hadi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan seusai memberikan keterangan di kantor Badan Pengawas Pemilu, Jakarta, Jumat, 2 November 2018. Luhut memberikan keterangan terkait pose satu jari dalam penutupan forum IMF di Bali beberapa waktu lalu. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Solo-Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman  Luhut Panjaitan menyayangkan perbuatan tiga perempuan dari Karawang yang melakukan kampanye hitam terhadap calon presiden inkumben Joko Widodo alias Jokowi. Dia menganggap kampanye hitam itu sebagai bentuk kepanikan.

    "Itulah, fitnah-fitnah lagi," kata Luhut saat menghadiri pelantikan Tim Bravo 5 di Solo, Senin 25 Februari 2019. Dia menyebut bahwa selama ini Jokowi sering mendapatkan serangan dalam bentuk fitnah. "Itu bentuk kepanikan."

    Baca: Sindir Doa Neno Warisman, Luhut Panjaitan: Kok, Tuhan Diancam?

    Apalagi, ujar Luhut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi juga telah mengakui bahwa pelaku kampanye hitam itu adalah relawannya. "Kami sendiri tidak pernah melakukan perbuatan seperti itu," katanya.

    Menurut Luhut, Jokowi juga sering mendapat fitnah berbau SARA, termasuk fitnah bahwa Jokowi merupakan keturunan Partai Komunis Indonesia. "Tadi kan Bu Noto (Ibunda Jokowi) juga hadir, kalian juga tahu seperti apa penampilannya," katanya.

    Terkait kasus kampanye hitam di Karawang itu, Luhut mengatakan bahwa tim Jokowi menyerahkannya pada hukum yang berlaku. "Kami tidak ingin pusing-pusing," katanya. Dia juga meminta agar media memberitakannya secara adil.

    Sosialisasi dua perempuan itu diketahui melalui video yang beredar di media sosial. Keduanya berkampanye dari pintu ke pintu dan menyampaikan kepada warga sejumlah hal yang akan terjadi jika calon presiden nomor 1, Joko Widodo menang pilpres.

    Simak: Sebut Tak Ada Azan Jika Jokowi Menang, 3 Ibu-ibu Ditangkap Polisi

    "Lamun Jokowi dua periode moal aya deui sora azan, moal aya budak ngaji, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin," kata perempuan di video itu.

    Artinya kira-kira begini: "Jika Jokowi dua periode tak akan ada lagi suara azan, tak ada anak-anak mengaji, tak ada lagi yang memakai kerudung. Perempuan dan perempuan boleh kawin, lelaki dan lelaki boleh kawin."

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.