Pilpres, 4 Daerah Ini Medan Pertarungan Sengit Jokowi vs Prabowo

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01, Joko Widodo alias Jokowi (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Februari 2019. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Capres nomor urut 01, Joko Widodo alias Jokowi (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Februari 2019. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik, Adi Prayitno, mengatakan daerah dengan jumlah pemilih yang cukup banyak berpotensi terjadi kecurangan dan kerawanan di Pilpres 2019. Dia engatakan, secara umum daerah dengan jumlah penduduk yang banyak menjadi kotak kunci pemenangan pilpres yang menghadapkan pasangan Jokowi - Ma'rif Amin dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

    Adi pun membuat ranking daerah rawan tersebut. Dalam catatannya, Jawa Barat masih menempati urutan pertama.  "Potensi yang eskalasinya agak naik tetap Jawa Barat dengan jumlah pemilihnya 31 juta," kata Adi dalam diskusi di Nanami Ramen, Jakarta, Sabtu, 23 Februari 2019.

    Dengan jumlah pemilih sebesar itu, kata Adi, tentu saja Jawa Barat akan menjadi wilayah primadona bagi kontestan untuk mencari suara maksimal bagi kedua kandidat, yakni Jokowi dan Prabowo.

    Jawa Barat dulu merupakan lumbung suara calon presiden Prabowo Subianto di pilpres 2014. Adi yakin, calon presiden inkumben Jokowi tak ingin mengulangi kekalahan yang sama di daerah itu. "Kalau bisa menyalip. Kalau tidak bisa, minimal draw (seri). Eskalasi pertempuran naik. Konon, Pak Jokowi sempat tertinggal jauh gara-gara kontribusi suara Jawa Barat yang dimiliki Prabowo."

    Daerah kedua yang berpotensi rawan adalah Jawa Timur. Adi menuturkan, medan pertarungan di Jawa Timur kini menarik. Bahkan, bisa serupa di Jawa Barat. Pasalnya, pada pilpres 2014, Partai Demokrat dan ketuanya, Susilo Bambang Yudhoyono, tidak memiliki sikap politik. Sehingga, Jokowi pun unggul pada pemilu lalu.

    Namun, Partai Demokrat kini memutuskan untuk mendukung Prabowo pada pilpres 2019. Sehingga, Adi menilai hal itu membuat calon presiden nomor 02 itu terlihat percaya diri karena mendapat suntikan amunisi, meski Demokrat terlihat terbelah.

    Selanjutnya, Jawa Tengah juga menjadi wilayah perebutan suara kedua calon presiden. Pada pilpres 2014, Jawa Tengah merupakan wilayah yang memberikan kontribusi besar terhadap kekalahan Prabowo.

    Suara Jokowi pada pilpres 2014 di berbagai provinsi dan daerah kalah dari Prabowo, namun bisa ditutupi karena unggul di Jawa Tengah. Bahkan, kata Adi, perolehan suara Jokowi di Jawa Tengah setelah dikurangi kekalahan di berbagai daerah pun masih kelebihan 3,5 juta suara.

    "Rata-rata perolehan di Jawa Tengah, Jokowi unggul 5,6 juta. Hampir separuh menang dari Prabowo. Ini lah kenapa strategi 02 menggempur Jawa Tengah. Karena dianggap basisnya Jokowi, basis merah. Ini disebut perang total," kata dia.

    Untuk wilayah di luar Jawa yang selalu dilirik sebagai basis pertarungan perebutan suara adalah Sumatera Utara, dengan jumlah suara di atas 8 juta. Kemudian disusul Jakarta, Banten, dan Lampung. Adi menduga, wilayah-wilayah tersebut akan menjadi ladang subur pertandingan Jokowi dan Prabowo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.