Isu Pilpres 2019: dari Foto hingga Lagu Berbau PKI dan Komunisme

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01 Joko Widodo atu Jokowi (kiri) berjalan bersama capres no urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019. ANTARA/Setneg-Agus Suparto

    Capres nomor urut 01 Joko Widodo atu Jokowi (kiri) berjalan bersama capres no urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019. ANTARA/Setneg-Agus Suparto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang hari-H pemilihan presiden atau pilpres 2019 yang akan digelar pada April mendatang, berbagai isu muncul dan dimunculkan oleh dua kubu yang akan berlaga di pilpres, yakni Joko Widodo - Ma’ruf dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Partai Komunis Indonesia (PKI) dan komunisme menjadi salah satu isu di antara banyak isu yang dikemukakan oleh tim sukses maupun simpatisan.

    Baru-baru ini, isu komunisme kembali disampaikan salah satu simpatisan  Jokowi. Akun @D4Ni3L_Pu dengan pengikut 7.209 pengguna Twitter, mengunggah cuitan yang menyamakan mars Partai Gerindra, “Pandu Bangsa”, dengan lagu Partai Komunis Cile berjudul Venceremos. “Selama ini pendukung Prabowo sering menyerang Jokowi dengan isu komunis. Tapi, kok, mars partai milik Prabowo yang justru ada kemiripan dengan mars [partai] komunis Chile? Hayo sopo sekarang yang ada bau-bau komunis?” Pemilik akun itu mencuit.

    Baca: Mardani Sedih Jokowi Masih Saja Main Deklarasi Menjelang Pilpres

    Lagu ini diketahui sering diputar atau dinyanyikan dalam acara-acara Gerindra. Mars ini juga dinyanyikan kader dan pengurus Gerindra saat perayaan ulang tahun Gerindra ke-11 pada 5 Februari 2019 di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Prabowo tampak memimpin kader menyanyikan mars yang biramanya mirip dengan mars “Venceremos” itu.

    Penelurusan Tempo, lagu “Venceremos” yang mirip dengan mars Gerindra itu diciptakan oleh Sergio Ortega, seorang komposer kelahiran Antofagasta, Cile. Ortega. Dia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penggerak seni yang melahirkan lagu-lagu populer bermuatan politis di era pemerintahan sosialis Salvador Allende pada 1970-an. 

    Sergio mencapai puncak kariernya saat menulis balada agitasi dan propaganda (agitprop) bertajuk “Venceremos” (“Kami Akan Menang”) itu. Popularitas Jara membawa lagunya itu kemudian dipakai untuk kepentingan kampanye sosialis Allende saat mengikuti pemilu 1970, melawan Radoromic Toric. Usai pemilu, lagu ini kemudian populer sebagai salah satu lagu khas kelompok kiri di Cile.

    Baca: Bukan 25 Persen, JK Sebut Kebocoran Anggaran Hanya 2,5 Persen

    Tak hanya lagu berbau komunis, sebelumnya Prabowo juga diserang dengan foto berbau PKI. Beredar unggahan foto Prabowo Subianto bersama Arief Poyuono beredar di media sosial. Foto itu diberi narasi bahwa Prabowo sedang bersama cucu Partai Komunis Indonesia. Narasi itu dilengkapi dengan logo palu arit di bendera dan saku kaos yang dipakai Poyuono. Keduanya saling menjabat tangan kanan, sedangkan tangan kiri Poyuono diangkat mengepal. Foto dan narasi itu diunggah di halaman Dokter Politik di Facebook pada Ahad , 3 Februari 2019. 

    Tempo mengecek fakta menggunakan alat pencari gambar untuk mencari sumber asal foto itu. Dari penelusuran fakta itu bisa disimpulkan, bahwa foto yang menyebut Prabowo Subianto bersama cucu PKI itu keliru. Atribut palu arit di dalam foto itu adalah hasil suntingan. Arief Poyuono adalah Wakil Ketua Umum Bidang Buruh dan Ketenagakerjaan Partai Gerindra.

    Jauh sebelum isu komunis dan PKI yang menyerang Gerindra pada Pilpres 2019, calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi telah diserang isu ini sejak pemilihan presiden 2014. Dalam berbagai kesempatan, Jokowi kerap membantah isu itu. Jokowi menjelaskan kabar itu merebak karena beredarnya foto lelaki dewasa mirip dengannya, tengah mendengarkan pidato pemimpin PKI D.N. Aidit pada tahun 1955.

    Simak: KPU: Petani Bawang yang Curhat ke Sandiaga Mantan Komisioner

    "Saya lahir tahun 61, umur saya 4 tahun masih balita. Masa ada PKI balita?" ujar Jokowi di Lapangan Sepakbola Arcici Rawasari, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 Januari 2019. "Ini fitnah keji, orangnya belum lahir sudah dipasang di situ." 

    Jokowi mengklaim berdasarkan survei internal timnya, ada 9 juta orang yang percaya bahwa ia anggota PKI. Ia heran melihat banyaknya masyarakat modern yang percaya kabar bohong seperti itu. "Sebab itu saya sekarang ngomong, kalau enggak ngomong malah tambah jadi 12 juta nanti."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.