TGB Ungkap Enam Alasannya Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, memberi keterangan pers terkait dengan pemberitaan terhadap dirinya, di Jakarta, Rabu, 19 September 2018. TGB Zainul Majdi menegaskan aliran dana yang masuk ke rekeningnya berasal dari pendapatannya yang sah. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, memberi keterangan pers terkait dengan pemberitaan terhadap dirinya, di Jakarta, Rabu, 19 September 2018. TGB Zainul Majdi menegaskan aliran dana yang masuk ke rekeningnya berasal dari pendapatannya yang sah. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi menceritakan enam alasan kenapa dirinya mendukung Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 ini.

    Baca: TGB Bantah Jadi Inisiator Jaringan Alumni Mesir Dukung Jokowi

    Pertama, kata TGB, karena ia menilai Jokowi merupakan seorang muslim sejati. Ia mengklaim telah menelusuri rekam jejak Jokowi, melalui orang-orang terdekat Jokowi. Ia pun mengaku telah membaca buku yang menjelaskan latar belakang Jokowi.

    “Kesimpulannya Jokowi adalah seorang muslim yang baik,” ujar TGB di acara Diskusi Publik dan Deklarasi Dukungan Jokowi - Ma’ruf oleh Jaringan Alumni Mesir Indonesia (JAMI) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu, 9 Februari 2019.

    Kedua, menurut TGB Jokowi adalah orang yang berproses. Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengatakan Jokowi bukan tokoh pemimpin yang instan. Jokowi, kata dia, telah menapaki perjalanan yang cukup panjang.

    Selama proses ini, kata TGB, ia tak sekali pun menemukan tindakan korupsi kolusi nepotisme (KKN) yang dilakukan Jokowi. Ia pun menilai proses ini penting, karena untuk menilai seseorang tidak dapat dimulai sejak saat orang itu muncul dalam kontestasi saja, tetapi juga harus dinilai saat berproses sebelumnya.

    Ketiga, TGB mengatakan selama Jokowi memimpin, baik sebagai wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, atau sebagai presiden, dirinya tidak menemukan kebijakan Jokowi yang tidak berpihak kepada rakyat serta ulama. Meskipun kebijakannya tidak bernuansa Islami, tetapi kepemimpinannya ia nilai dekat dengan ajaran Islam.

    Baca: TGB Sebut Ruang Publik Sudah Pengap dan Banyak Racun Kebohongan

    Ia pun mengaku sempat datang ke Solo untuk melihat kebijakan apa saja yang telah ditelurkan Jokowi. Hasil penelusurannya ini, ia tak menemukan satu kebijakan pun yang bertentangan dengan kepentingan umat.

    “Alhamdullilah di Solo atau di Jakarta, tidak ada kebijakkan yang menciderai rasa keadilan masyarakat. Tidak ada yang menciderai umat,” tutur dia.

    Keempat, ia mengatakan selama menjabat sebagai Gubernur NTB pada kepemimpinan Jokowi, ia mengaku melihat ada perubahan. Hal itu tercermin dari kebijakan maupun anggaran.

    Kelima, Jokowi ia nilai telah menemukan potensi untuk mengembangkan ekonomi nasional, yakni ekonomi Islam. Ia mengatakan sudah banyak negara di dunia yang menjadikan negaranya wilayah yang kondusif untuk membangun ekonomi Islam.

    Ia mengatakan ekonomi Islam dapat menjadi bagian dari ekonomi nasional. Ia pun optimis gagasan ini akan terwujud saat Jokowi memilih Ma’ruf Amin, yang ia anggap pentolan ekonomi Islam di Indonesia.

    Terakhir, menurut pengalamannya sebagai gubernur NTB, seorang pemimpin perlu dua periode untuk menuntaskan visi besarnya. Ia menyatakan hal itu juga dirasakan oleh semua kepala daerah yang memimpin selama dua periode, bahwa satu periode saja belum cukup. “Butuh dua periode untuk menyempurnakan ikhtiar-ikhtiar ini,” ucap ketua JAMI ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.