Cara Kubu Jokowi Tandingi Tagar Kuntilanak Kubu Prabowo di Medsos

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Cakra-19, salah satu tim bayangan pemenangan calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi di pemilihan presiden 2019, Andi Widjajanto saat memaparkan data bahwa kubu paslon 01 sudah unggul dalam pertarungan di sosial media dari paslon 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Jumat malam, 25 Januari 2019. TEMPO/Dewi Nurita.

    Ketua Tim Cakra-19, salah satu tim bayangan pemenangan calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi di pemilihan presiden 2019, Andi Widjajanto saat memaparkan data bahwa kubu paslon 01 sudah unggul dalam pertarungan di sosial media dari paslon 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Jumat malam, 25 Januari 2019. TEMPO/Dewi Nurita.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Cakra 19, salah satu tim relawan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin, Andi Widjajanto membeberkan cara timnya menandingi tagar 'kuntilanak' yang dibuat kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno di media sosial. Tagar 'kuntilanak' merupakan istilah yang disematkan kubu Jokowi untuk tagar buatan tim medsos Prabowo yang ditengarai selalu bermain di tengah malam.

    Baca: Timses Ungkap Keunggulan Kampanye Jokowi, Salah Satunya Jan Ethes

    Andi membeberkan ada beberapa cara, antara lain; timnya memiliki strategi bermain dengan tagar primer dan dinamis. Tagar primer yang dimaksud adalah #Jokowi01, atau #Jokowilagi yang selalu dimainkan setiap hari. Sementara tagar dinamis, yakni tagar yang dipakai untuk membalas isu-isu tertentu. "Misalnya, waktu kasus Ratna Sarumpaet, ada tagar Prabowo Hoax dan sebagainya," ujar Andi Widjajanto di bilangan Gelora, Jakarta pada Jumat malam, 25 Januari 2019.

    Andi menyebut, ada dua kekuatan kubu Jokowi yang bermain di media sosial, yakni mampu bermain politik serius, sekaligus mampu bermain politik 'receh'. "Kami bisa main serius dengan data-data, tapi kami juga bisa memviralkan Jan Ethes," ujar dia.

    Mantan Sekretaris Kabinet Jokowi yang tak sampai setahun menjabat ini menyebut, dua kekuatan itu diperlukan karena pada dasarnya, politik adalah tentang persepsi. "Setelah kami memenangkan persepsi. Baru melakukan dikotomi, menunjukkan perbedaan kami (Jokowi) dan mereka (Prabowo)," ujar Andi.

    Baca: Jokowi Soal Tabloid Indonesia Barokah: Baca Dulu Baru Komentar

    Andi menyebut, hal tersebut sudah dipraktekkan Jokowi dalam debat pilpres perdana pada 17 Januari lalu. Jokowi membuka debat dengan membangun persepsi publik sebagai calon presiden yang membawa narasi optimistis. Di pertengahan debat, Jokowi menciptakan dikotomi dengan mengatakan tidak punya potongan diktator dan tidak memiliki rekam jejak pelanggar HAM. "Pak Jokowi membuat dikotomi dengan yang di sana (Prabowo)," ujar Andi.

    Pernyataan-pernyataan Jokowi saat debat, ujar Andi, kemudian diviralkan dan dinilai berhasil membuat Paslon 01 unggul di media sosial. Mesin monitoring medsos milik kubu Jokowi menunjukkan calon presiden inkumben itu mendominasi percakapan di media sosial dengan sentimen positif.

    "Kalau potret mesin per hari ini, kami menguasai 58 persen eksposure di media sosial," ujar Andi.

    Selain memperhatikan konten, Andi menyebut yang tak kalah penting adalah kuantitas. Untuk itu, kubunya memiliki banyak simpul pasukan udara untuk bertarung di medsos. Salah satunya, ada pasukan udara Pertiwi (Perempuan Tangguh Dukung Jokowi) yang dipimpin Putri Kuswinu Wardani, anak kedua dari pemilik PT Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo.

    Putri Kuswinu membeberkan, dirinya memiliki dua pasukan udara yang berjumlah sekitar 300 orang. "Tim udara kami bekerja untuk membuat konten dan menyebarluaskan konten kampanye Jokowi-Ma'ruf," ujar Putri kepada Tempo pada Jumat malam, 25 Januari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?