Sosiolog: Golput Ada karena Krisis Kepercayaan kepada Pemerintah

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kotak suara/ logistik Pemilu Kepala Daerah (Pilkada). TEMPO/Bram Selo Agung

    Ilustrasi kotak suara/ logistik Pemilu Kepala Daerah (Pilkada). TEMPO/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosilog Ariel Heryanto melihat sikap masyarakat yang memilih menjadi golongan putih (golput) atau tidak menggunakan hak suara dalam pemilu karena mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah. "Tidak percaya pada petahana dan tidak percaya pada oposisi yang menantang." Ariel menyampaikannya melalui surat elektronik, Jumat, 25 Januari 2019.

    Krisis kepercayaan itu, kata Ariel, tidak aneh. Sebab, secara umum, sejak 1988, Indonesia masih dikepung oleh berbagai kekuataan lama maupun baru dari Orde Baru. Hanya saja, mereka berganti baju, penampilan, slogan, dan gaya bicara.

    Baca: Golput, Advokat Ini Sebut Muak dengan Jokowi Apalagi Prabowo

    "Satu atau dua individu anti Orde Baru yang masuk dalam lingkaran kekuasaan tidak berdaya oleh cengkeraman mantan atau penerus politikus Orde Baru." Agak menyesatkan jika Pilpres 2019 digambarkan hanya sebagai persaingan sosok Jokowi dan Prabowo saja. Karena di belakang masing-masing dua calon presiden ini, ada jaringan kelompok yang sangat kuat dan sama-sama menjadi pewaris politik orde baru.

    Ariel mencontohkan Jokowi. Menurut dia, Jokowi adalah pribadi yang baik dan bersih. "Dia tidak dibesarkan di lingkungan politik negara Orde Baru.” Jokowi, kata dia, dibesarkan dan dipilih massa dalam jumlah besar yang hanya berkumpul lima tahun satu kali di lapangan atau media sosial. Alhasil, setelah dipilih massa, Jokowi masuk ke istana seorang diri.

    Baca: Koalisi Sipil Beberkan Penyebab Fenomena ...

    Di istana Jokowi menghadapi aneka serigala. Sedangkan massa pendukungnya kembali ke rutinitas hidup sehari-hari. "Jokowi, atau siapapun pun orang seperti dia, tidak akan berdaya banyak di tengah lingkungan politik yang sudah hampir menyeluruh dikuasai oleh kekuatan lama dan baru bercorak Orde Baru."

    Ariel menilai, Pilpres 2019 ini hanya bersaing berebut kekuasaan dan tidak memiliki ideologi yang berbeda. Itu sebabnya, ia menilai wajar jika ada golput pada pemilu 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.