Amien Rais Sebut Tes Baca Al Quran untuk Capres Tidak Relevan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menjawab pertanyaan awak media saat mendatangi gedung KPK, Jakarta, Senin, 29 Oktober 2018. Dalam kesempatan tersebut, Amien Rais didampingi politikus Partai Gerindra Ferry Juliantono, penggerak #2019GantiPresiden Neno Warisman, dan koordinator Forum Masyarakat Peduli Penegakan Hukum dan Keadilan Marwan Batubara. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menjawab pertanyaan awak media saat mendatangi gedung KPK, Jakarta, Senin, 29 Oktober 2018. Dalam kesempatan tersebut, Amien Rais didampingi politikus Partai Gerindra Ferry Juliantono, penggerak #2019GantiPresiden Neno Warisman, dan koordinator Forum Masyarakat Peduli Penegakan Hukum dan Keadilan Marwan Batubara. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai usulan tes baca Al Quran untuk para calon presiden dan wakil presiden yang akan tertarung dalam pemilihan umum 2019 tidaklah relevan. Ia bahkan menganggap usulan itu lucu.

    Baca juga: Adik Gus Dur Anggap Tes Baca Al Quran bagi Capres Tidaklah Urgen

    Amien mengatakan tes baca Al Quran itu lebih cocok diterapkan untuk profesi yang terkait. "Kalau untuk (memilih) pimpinan pondok pesantren boleh lah ya (dengan tes baca Al Quran)," ujarnya saat ditemui seusai menjadi pembicara di Pengajian Refleksi Akhir Tahun yang digelar di masjid kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) unit 4, jalan ring road selatan Yogya, Senin, 31 Desember 2018.

    Sebelumnya, tantangan tes baca Al Quran disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak di Banda Aceh, Sabtu, 29 Desember 2018. "Untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Al Quran kepada kedua pasangan calon," kata Tgk Marsyuddin saat itu.

    Tes baca Al Quran, dia melanjutkan, lebih relevan diterapkan untuk agenda pemilihan pimpinan di organsisai kemasyarakatan Islam, misalnya muktamar Pimpinan Pusat Muhammadiyah. "Tapi kalau memaksa diterapkan untuk memilih (presiden) itu tidak tepat, nanti ke mana-mana, yang ini harus hafal injil, dan sebagainya," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1995-2000 ini.

    Baca: TKN: Jokowi Siap Ikut Tes Baca Alquran Tantangan Dai Aceh

    Amien juga sangsi jika orang hafal Al Quran otomatis perilakunya sesuai dengan ajaran Al Quran. "Sebab banyak juga orang yang hafal Al Quran, tapi perangainya seperti orang tidak beriman. Jadi (hafal Al Quran) itu bukan ukuran," ujarnya.

    Lebih lanjut, Amien menggambarkan banyak juga orang yang seolah berperilaku alim ternyata banyak masuk bui karena melanggar hukum. "Sementara di satu sisi, orang yang kelihatannya abangan, perilakunya jujur. Di mata Allah, tentu itu lebih bagus," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.