Kata Hasto Kristiyanto soal Tes Baca Al Quran untuk Capres

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, menanggapi soal undangan tes membaca Al Quran oleh Dewan Ikatan Dai Aceh. Ia mengatakan usulan tersebut dapat menjadi bumerang bagi lawan politiknya yang kerap menggunakan isu agama dalam berpolitik.

    Baca: Kubu Jokowi Menilai Usulan Tes Baca Al Quran Berlebihan

    “Kami melihat ini cara masyarakat Aceh untuk mengoreksi pemimpinnya yang mencoba menggunakan isu-isu agama,” kata Hasto dalam konferensi pers di Media Center Jokowi-Ma’ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad 30 Desember 2018.

    Sebelumnya, Dewan Ikatan Dai Aceh mengusulkan adanya tes baca Al Quran bagi kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Tantangan itu disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, di Banda Aceh, Sabtu, 29 Desember 2018.

    Menurut Hasto, baik Jokowi dan Ma’ruf Amin tak masalah bila betul terjadi tes ini. Sebaliknya bagi lawan politik yang tidak ia sebutkan siapa, usulan Dewan Ikatan Dai Aceh ini diibaratkan pukulan haymaker, yang dapat membuat perut mulas.

    Baca: Hasto Kristiyanto: Tidak Ada Untungnya Kami Mengganggu Demokrat

    “Untuk urusan bangsa dan negara jangan permainkan isu-isu agama yang seharusnya membangun peradaban kita bersama,” tutur Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

    Tapi Hasto menambahkan, TKN menganggap tes membaca Al Quran ini tidak perlu dilakukan. Pasalnya, kata dia, pemimpin tidak diukur dari kepiawaian mengaji, melainkan dari ketakwaan terhadap Tuhan. Ia pun mengatakan bahwa TKN mengikuti persyaratan sesuai dengan Pasal 10 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 22 Tahun 2018.

    Hasto mengaku paham bagaimana masyarakat Aceh mendambakan sosok pemimpin yang agamis. Namun ia mengatakan bahwa pemimpin agamis yang ideal tercermin dari tindakan, bukan dari klaim. “Agamis itu diukur dari tindakan, bukan dari klaim,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.