Usai Reuni 212, Pendukung Prabowo dari NU dan Muhammadiyah Turun

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • LSI Denny JA merilis hasil survei nasional tentang pertarungan Jokowi va Prabowo setelah Reuni 212. Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, menyebut reuni 212 tidak berdampak signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden 2019. Jakarta, 19 Desember 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    LSI Denny JA merilis hasil survei nasional tentang pertarungan Jokowi va Prabowo setelah Reuni 212. Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, menyebut reuni 212 tidak berdampak signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden 2019. Jakarta, 19 Desember 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan Reuni 212 yang berlangsung pada 2 Desember 2018 secara bersamaan membuat sejumlah pemilih pasangan calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto-Sandiaga, ada yang datang dan pergi.

    Baca: 5 Alasan Reuni 212 Tak Berdampak Elektoral bagi Jokowi - Prabowo

    Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, mengatakan pemilih yang pergi dari Prabowo-Sandiaga adalah mereka yang merasa terafiliasi dengan organisasi Islam Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan yang menyatakan tidak terafiliasi dengan organisasi Islam manapun.

    "Namun ada sebagian pemilih yang datang ke Prabowo-Sandiaga dari yang mengaku terafiliasi dengan FPI (Front Pembela Islam) dan PA 212 (Persaudaraan Alumni 212)," kata Adjie dalam konferensi pers di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Rabu, 19 Desember 2018.

    Adjie menjelaskan, berdasarkan survei LSI pada November 2018 dan Desember 2018 terjadi penurunan pemilih Prabowo yang berasal dari organisasi NU, Muhammadiyah, dan yang tidak terafiliasi dengan organisasi Islam manapun.

    Baca: Hasil Riset: Kampanye Jokowi Pasif, Prabowo Agresif

    Pada November 2018, pendukung Prabowo dari NU sebanyak 30,2 persen tapi seusai Reuni 212 jumlahnya jadi 28,6 persen. Begitupun pemilih Prabowo dari Muhammadiyah yang turun dari 40,7 persen menjadi 38,4 persen. Sedangkan masyarakat yang mengaku tidak terafiliasi dengan organisasi Islam manapun turun dari 33,1 persen menjadi 30,8 persen.

    Sedangkan pemilih Prabowo dari golongan FPI dan PA 212 bertambah seusai peristiwa yang terpusat di tugu Monumen Nasional itu. Pada November 2018, massa FPI yang memilih Prabowo sebanyak 68,3 persen dan pada Desember 2018 jumlahnya naik jadi 74,8 persen.

    Sementara pemilih dari PA 212 yang mendukung Prabowo juga naik dari 70,4 persen jadi 82,6 persen.

    Baca: Survei: Pemilih Partai Pendukung Prabowo Paling Suka Reuni 212

    Menurut Adjie, pemilih Prabowo yang datang dan pergi seusai reuni 212 ini menjadi salah satu sebab mengapa aksi tersebut tidak memberi dampak signifikan terhadap elektabilitas Prabowo-Sandiaga maupun pesaingnya, Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin.

    Berdasarkan survei yang dilakukan pada 5-12 Desember 2018 dan melibatkan 1.200 responden dengan margin of error lebih kurang 2,8 persen ini, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih unggul ketimbang Prabowo Subianto-Sandiaga sebesar 54,2 persen berbanding 30,6 persen. Merujuk survei LSI pada November lalu angka tersebut tidak berbeda jauh, yakni 53,2 persen untuk Jokowi dan 31,2 persen bagi Prabowo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.