Tim Prabowo Tak Pusingkan Respons Narasi Orba Titiek Soeharto

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, seusai menghadiri acara Ngobrol Berama 300 Jenderal dan Tokoh Intelektual di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Sabtu, 22 September 2018. TEMPO.CO/Francisca Christy Rosana

    Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, seusai menghadiri acara Ngobrol Berama 300 Jenderal dan Tokoh Intelektual di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Sabtu, 22 September 2018. TEMPO.CO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan pihaknya tak berfokus menyikapi respons publik ihwal narasi keberhasilan Orde Baru yang dilontarkan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto.

    Baca: Titiek Janji Bila Prabowo Menang RI Akan Seperti Era Soeharto

    Dahnil beralasan publik sudah cukup cerdas menilai kepemimpinan Soeharto selama Orba. "Kami tidak fokus pada respons publik seperti apa. Publik sudah cerdas kok, masa kita semua harus menyalahkan Pak Harto," kata Dahnil di depan rumah Prabowo, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Senin, 19 November 2018.

    Menurut Dahnil, kepemimpinan Soeharto memiliki dua sisi, baik dan buruk yang bisa dipelajari. Kata dia, bagian yang baik diambil, sedangkan yang kurang ditinggalkan. Dahnil enggan menjawab saat ditanya apakah kampanye yang mengusung narasi Orde Baru itu akan menguntungkan Prabowo dan Sandiaga secara elektoral.

    "Biarlah publik yang menilai," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah ini.

    Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, kampanye dengan narasi keberhasilan Orde Baru itu tak berarti Prabowo ingin mengembalikan rezim tersebut. Namun, kata dia, Soeharto pernah berhasil dalam pembangunan di bidang pertanian dan swasembada pangan.

    Baca: Titiek Soeharto Sebut Prabowo "Mas", Warganet Doakan Rujuk

    Menurut Muzani, Prabowo ingin mengembalikan kemandirian di bidang pangan ini seumpama terpilih menjadi presiden. Muzani beralasan, sektor pangan Indonesia saat ini masih tergantung kepada impor.

    "Ini yang akan diubah, bagaimana orientasinya kepada peningkatan produksi dalam negeri di bidang pangan, sehingga ketergantungan kita kepada impor yg bisa menguras devisa dan mengganggu neraca pembayaran itu bisa teratasi. Kira-kira itu semangatnya," kata Muzani.

    Muzani mengatakan setiap pemerintahan memiliki kelebihan dan keburukan. Dia mengklaim, selama ini Prabowo juga mengadopsi semangat Trisakti yang digaungkan mantan Presiden Sukarno. Namun, Muzani juga tak menjawab saat ditanya ihwal dampak elektoral dari kampanye Orba itu.

    "Semangatnya itu tadi yang saya jelaskan. Ibu Titiek putri Pak Harto, kalau ada kerinduan untuk mengembalikan Orde Baru silakan tanya Bu Titiek," ucap Muzani.

    Sebelumnya, Titiek Soeharto mengatakan banyak hal baik di era kepemimpinan ayahnya, Presiden Soeharto. Menurut dia, Indonesia akan kembali seperti masa Orde Baru jika Prabowo dan Sandiaga menang Pilpres 2019.

    "Sudah cukup… Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional dan dikenal dunia," ujar Titiek melalui akun Twitternya @Titiek Soeharto, Rabu, 14 November 2018.

    Cuitan itu menuai pelbagai respons. Warganet malah mengungkit berbagai catatan negatif dari pemerintahan Soeharto. Hal-hal yang disinggung di antaranya soal kebebasan demokrasi, otoritarianisme Orba selama 32 tahun, dan pelanggaran hak asasi manusia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.