Saat Prabowo Kecewa Ada Spanduk Kampanye Caleg di Pesantren

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menghadiri acara perayaan hari ulang tahun ke-1 Front Santri Indonesia yang digelar oleh Front Pembela Islam di Lapangan Masjid Amaliyah, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin malam, 22 Oktober 2018. Istimewa.

    Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menghadiri acara perayaan hari ulang tahun ke-1 Front Santri Indonesia yang digelar oleh Front Pembela Islam di Lapangan Masjid Amaliyah, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin malam, 22 Oktober 2018. Istimewa.

    TEMPO.CO, Jakarta - Raut wajah calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, yang semula sumringah mendadak berkerut setelah menaiki panggung sederhana di Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiah, Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, pada Selasa, 30 Oktober 2018.

    Baca juga: Anwar Ibrahim Kepleset Lidah Sebut Nama Prabowo

    Setelah mengucapkan salam di podium, Prabowo tidak lekas berpidato. Rupanya Prabowo kecewa lantaran ada spanduk milik seorang kader Gerindra di pesantren itu.

    "Tadi Pak Prabowo kecewa karena ada spanduk kampanye milik seorang caleg DPR RI dari Partai Gerindra yang dipasang di bagian pondokan santri putra, tepat di hadapan podium," kata pengasuh Ponpes Darul Qur'an Salafiyah, Kyai Suntaji, saat ditemui Tempo seusai acara silaturahmi Prabowo pada Selasa sore, 30 Oktober 2018.

    Suntaji mengatakan, saat itu juga Prabowo langsung meminta ajudannya segera melepas spanduk tersebut. "Kalau nggak dilepas, saya nggak akan naik ke podium. Saya pulang saja, saya sudah pamit Pak Kyai," kata Suntaji menirukan perintah Prabowo kepada ajudannya.

    Suntaji berujar, spanduk kampanye berukuran cukup besar itu milik Anisa Ika Devy Natalia, caleg DPR RI dari Partai Gerindra. "Tadi pagi setelah salat Subuh saya sudah menyuruh santri untuk mencopot satu spanduk kecil yang dipasang di area pondok. Sekitar pukul 10.30, datang lagi beberapa orang dari tim suksesnya Bu Anisa. Mereka pasang spanduk lagi. Ya saya suruh lepas lagi," ujar Suntaji.

    Dari pantauan Tempo, Prabowo yang didampingi Ketua MPR Zulkifli Hasan dan mantan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo tiba di Ponpes Darul Qur'an Salafiyah Klaten pada pukul 14.15. "Beberapa menit sebelum Pak Prabowo datang, saya baru tahu ternyata ada spanduk lagi yang terpasang dan ukurannya lebih besar. Ya sudah, saya diam. Ternyata malah ditegur langsung sama Pak Prabowo," kata Suntaji.

    Dalam pidatonya yang berlangsung selama sekitar sepuluh menit, Prabowo mengingatkan kepada seluruh kader Partai Gerindra agar tidak merusak tatanan.

    "Kalau pemimpinmu sendiri tidak mau datang ke pesantren untuk minta dukungan politik, jangan saudara coba-coba. Saya akan tegas pada anggota Partai Gerindra yang melanggar aturan, tata tertib, dan kesepakatan kita," kata Prabowo.

    Dalam aturan, kawasan pesantren dilarang sebagai tempat kampanye dalam pemilihan umum 2019.

    Prabowo mengatakan, kunjungannya ke ponpes-ponpes selama ini hanya untuk silaturahmi kepada para kyai, ulama, dan santri. "Saya tidak minta dukungan sebagai calon presiden untuk 2019. Kenapa, karena bagi saya ulama dan pesantren itu tempatnya harus diatas politik praktis. Kyai, ulama, itu milik seluruh rakyat. Tapi saya punya hubungan dekat dengan ulama, itu hak saya pribadi," kata Prabowo.

    Baca juga: Prabowo Bertemu Tokoh Lintas Agama, Bicara Soal Kebhinekaan

    Ditemui Tempo setelah Prabowo beserta rombongan meninggalkan Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah, Anisa mengaku tidak memerintahkan pemasangan spanduk kampanyenya di area pondok pesantren.

    "Mungkin itu dari relawan, saya sendiri tidak tahu. Tapi beliau (Prabowo) orangnya baik sekali, kesalahan apapun pasti dimaafkan," kata calon anggota DPR RI dari Kecamatan Karanganom, Klaten, itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.