Kata Zulkifli Hasan soal Pose Satu Jari Luhut dan Sri Mulyani

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua MPR Zulkifli Hasan menjawab pertanyaan wartawan setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 18 September 2018. Zulkifli Hasan diperiksa sebagai saksi dengan kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Majelis Pembina Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) untuk tersangka Gilang Ramadhan dalam tindak pidana korupsi kasus suap pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Lampung Selatan tahun anggaran 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua MPR Zulkifli Hasan menjawab pertanyaan wartawan setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 18 September 2018. Zulkifli Hasan diperiksa sebagai saksi dengan kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Majelis Pembina Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) untuk tersangka Gilang Ramadhan dalam tindak pidana korupsi kasus suap pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Lampung Selatan tahun anggaran 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan menilai tidak ada praktik kampanye yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani di forum International Monetary Fund- World Bank (IMF-WB) pekan lalu. Menurut dia, apa yang mereka lakukan hanya sekedar kelakar.

    "Kalau salah sedikit dihukum kita semua bisa kena hukum semua. Jadi menurut saya dipilah-pilah mana yang betul pelanggaran," kata Zulkifli di Gedung DPR pada Kamis, 18 Oktober 2018.

    Baca: Hasto: Pose Satu Jari Luhut dan Sri Mulyani Bukan Kampanye

    Dalam satu sesi konferensi pers di acara IMF-World Bank, Luhut dan Sri berfoto bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Direktur IMF Christine Lagarde, dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Lagarde dan Jim sempat berpose dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya namun dikoreksi oleh Sri Mulyani dan Luhut.

    Dalam rekaman video terdengar suara Sri yang meminta Luhut memberi tahu Lagarde dan Jim agar mengacung satu jari saja. Luhut meneruskan pesan tersebut. Di akhir sesi Sri Mulyani menyampaikan ke Lagarde bahwa 'Dua untuk Prabowo, Satu untuk Jokowi'.

    Baca: Timses Jokowi: Luhut dan Sri Mulyani Harus Siap Jika Dilaporkan

    Zulkifli mengatakan tensi pada tahun politik memang sedang memuncak. Akibatnya, banyak hal-hal biasa yang berbuntut pelaporan. "Misalnya Bu Sri Mulyani dan Pak Luhut. Kan dulu biasa bercanda begitu biasa, sekarang bisa jadi pelanggaran," ujarnya.

    Rival Jokowi, dari kubu Prabowo Subianto berencana melaporkan Luhut dan Sri Mulyani ke Bawaslu. Namun sampai Kamis, 17 Oktober 2018, laporan atas hal serupa baru dari masyarakat atas nama Dahlan Pido. Dahlan menilai ada pelanggaran kampanye dari apa yang dilakukan dua menteri itu.

    Meski begitu, Zulkifli mengatakan akan tetap patuh pada peraturan. Ia mengatakan yang terpenting adalah menjaga sikap dengan ekstra berhati-hati.

    Baca: Luhut dan Sri Mulyani Akan Dilaporkan ke Bawaslu, Ini Penyebabnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.