SMRC Sebut Tugas Sandiaga Lebih Berat Ketimbang Ma'ruf Amin

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno blusukan ke Pasar Tanjung, Kabupaten Jember, Ahad pagi, 7 Oktober 2018. TEMPO/David Priyasidharta

    Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno blusukan ke Pasar Tanjung, Kabupaten Jember, Ahad pagi, 7 Oktober 2018. TEMPO/David Priyasidharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menyebut tugas Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden lebih berat ketimbang Ma'ruf Amin. Djayadi beralasan, Sandiaga harus menggaet suara untuk calon presiden Prabowo Subianto, sedangkan tugas Mar'ruf Amin sebatas mempertahankan agar pemilih Joko Widodo tak berpindah dukungan.

    Baca: Blusukan ke Pasar, Sandiaga Jadi Rebutan Emak-emak

    "Tugas Sandiaga Uno lebih berat, bagaimana meraih para pemilih yang masih belum memutuskan, bahkan pemilih yang sudah memutuskan tapi masih bisa berubah untuk dibujuk memilih Prabowo," kata Djayadi di kantor SMRC, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad, 7 Oktober 2018.

    Sebelumnya, Djayadi membeberkan hasil sigi SMRC yang menunjukkan bahwa figur cawapres belum memberi pengaruh untuk calon presiden, baik positif maupun negatif. Survei SMRC mencatat, dukungan untuk Jokowi sebesar 60,2 persen, sedangkan Prabowo 28,7 persen. Jika berpasangan dengan cawapres Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno, dukungan terhadap keduanya berturut-turut sebesar 60,4 persen dan 29,8 persen, alias tak berubah signifikan.

    Baca juga: Survei SMRC: Figur Cawapres Belum Pengaruhi Elektabilitas Capres

    Djayadi mengatakan, suara pemilih tetap Prabowo saat ini baru berada di kisaran 25-30 persen. Menurut dia, Sandiaga setidaknya harus menggaet 17 persen suara lagi. Angka 17 persen ini setidaknya untuk menyamai hasil pilpres 2014. Ketika itu, pasangan Prabowo-Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 47 persen.

    Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin (tengah) menghadiri penutupan Rapimnas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Hotel Bintang, Jakarta pada Ahad, 7 Oktober 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Namun, lanjut Djayadi, angka itu pun belum cukup untuk memenangi pilpres 2019. Djayadi mengatakan Sandiaga setidaknya harus dapat mengumpulkan 4-5 persen suara lagi untuk mengungguli pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. "Tugas cawapres Prabowo harus bantu Prabowo di situ," ujarnya.

    Djayadi pun membeberkan sejumlah cara. Menurut dia, Prabowo memiliki basis massa pemilih di kawasan perkotaan kendati masih lebih rendah dibanding Jokowi. Sandiaga, kata Djayadi, harus memastikan agar pemilih Prabowo di perkotaan dapat mengungguli atau setidaknya menyamai Jokowi.

    Baca: Survei SMRC: Peluang Jokowi Memenangi Pilpres 2019 Menguat

    Berikutnya, Sandiaga harus berupaya keras mengurangi selisih dukungan Prabowo dan Jokowi di segmen masyarakat pedesaan. Sebab, kawasan pedesaan sebelumnya merupakan lumbung suara bagi Jokowi. Menurut Djayadi, Prabowo-Sandiaga memiliki karakteristik pemilih pengguna internet dan media sosial.

    "Tugas Sandi membantu mengurangi gap itu. Di kalangan milenial pedesaan yang menggunakan internet, ada peluang bagi Prabowo untuk meraih dukungan," ujarnya.

    Sementara Sandiaga harus menggaet dan menambah dukungan, Djayadi berpendapat Ma'ruf cukup mempertahankan suara untuk Jokowi. Sebab, kata Djayadi, elektabilitas Jokowi saat ini masih mengungguli Prabowo. Suara-suara pemilih Islam, misalnya, harus dirawat agar tak beralih dari capres petahana itu. Djayadi menyebut itulah yang dilakukan Ma'ruf saat ini dengan berkunjung ke pondok-pondok pesantren dan menemui para kiai.

    Baca: Survei Peluang Jokowi Menang Menguat, Timses: Tak Boleh Lengah

    "Jadi tugas Pak Ma'ruf Amin jangan sampai menggerus suara Jokowi," kata Djayadi. "Kalau Pak Ma'ruf Amin bisa mempertahankan itu, cukup bagi dia tugasnya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.