Sabtu, 20 Oktober 2018

Hasto PDIP: Prabowo Harusnya Cek Fakta Dulu Soal Ratna Sarumpaet

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratna Sarumpaet. TEMPO/Subekti

    Ratna Sarumpaet. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, menyesalkan pernyataan Prabowo Subianto yang mengatakan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet terkait dengan Pilpres 2019. Menurut Hasto, Prabowo sebagai seorang pemimpin seharusnya mengecek sebelum membuat pernyataan publik.

    Baca: Polisi: 21 September Ratna Sarumpaet di Rumah Sakit Bina Estetika

    "Bagaimana ada orang yang seharusnya menjadi pemimpin melakukan sebuah pernyataan ke publik tanpa melalui pengecekan dan proses hukum seperti layaknya dilakukan seorang warga negara," kata Hasto di posko Cemara, Jakarta, Rabu 3 Oktober 2018.

    Sebelumnya, Prabowo dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais telah menerima aduan langsung dari Ratna Sarumpaet terkait dugaan penganiayaan oleh tiga orang tak dikenal. Penganiayaan itu disebut terjadi pada 21 September petang di kawasan Bandara Husein Sastra Negara Bandung.

    Prabowo mengatakan, menjelang pemilihan presiden, sejumlah peristiwa serupa terjadi. Tindakan intimidasi, kata dia, bukan hanya menimpa Ratna Sarumpaet, tapi juga aktivis lain.

    Ia mencontohkan kejadian yang menimpa Neno Warisman dan Hermansyah. Keduanya menerima tindakan tidak menyenangkan belum lama ini terkait sikap politik mereka. Prabowo juga menilai, yang terjadi dengan Ratna ini berkaitan dengan jabatannya sebagai petinggi badan pemenangannya.

    "Karena tidak ada barang yang hilang dan harta yang dicuri, lalu apa lagi kalau bukan itu (sikap politik)?" kata Prabowo di kediamannya Jalan Kertanegara 4 Jakarta Selatan, Selasa 2 Oktober 2018. Prabowo mengatakan Ratna Sarumpaet menerima ancaman terkait dengan kegiatannya dalam tim pemenangan.

    Hasto merasa pernyataan Prabowo yang demikian dialamatkan pada Jokowi selaku pesaingnya di Pilpres 2019. Menurut dia, Jokowi juga tidak pernah membenarkan perilaku kekerasan dengan alasan apapun, apalagi untuk upaya-upaya pemenangan pertarungan demokrasi.

    "Bahkan muncul rasa simpati dan empati kami kepada Ratna Sarumpaet dan kami meminta pihak berwajib untuk segera memproses hukum itu. Bahkan Polri juga merespons cepat," kata Hasto.

    Namun, kata Hasto, seiring berjalannya waktu, penyelidikan yang dilakukan pihak berwajib menemukan fakta-fakta baru yang menimbulkan rasa curiga atas kebenaran penganiyaan terhadap Ratna Sarumpaet. Hasto mengatakan jika aduan Ratna Sarumpaet terbukti palsu, maka yang Ratna lakukan tidak bisa dibenarkan dalam rasionalitas pubilk apapun dan tidak berperikemanusiaan.

    Simak juga: Polisi dan Otoritas Bandara Bantah Keterangan Ratna Sarumpaet

    Hasil penyelidikan Polri telah menemukan fakta bahwa Ratna Sarumpaet tidak berada di Bandung pada 21 September. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan hasil lidik tim kepolisian menemukan Ratna Sarumpaet berada di Jakarta pada 21 September, tepatnya di Rumah Sakit Khusus Bina Estetika Jakarta Pusat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Kematian 10 Penentang Presiden Rusia Vladimir Putin

    Inilah 10 orang yang melontarkan kritik kepada Presiden Vladimir Putin, penguasa Rusia. Berkaitan atau tidak, mereka kemudian meregang nyawa.