Ma'ruf Amin Cerita Alasannya Mau Jadi Cawapres Meski Sudah Tua

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden Maruf Amin menyampaikan pidato politik dalam acara Deklarasi Perempuan Indonesia untuk Joko Widodo - Maruf Amin (P-IJMA) di Rumah Aspirasi, Jakarta, Sabtu, 22 September 2018. Deklarasi P-IJMA bertujuan memenangkan suara perempuan Indonesia kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo - Maruf Amin. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

    Calon wakil presiden Maruf Amin menyampaikan pidato politik dalam acara Deklarasi Perempuan Indonesia untuk Joko Widodo - Maruf Amin (P-IJMA) di Rumah Aspirasi, Jakarta, Sabtu, 22 September 2018. Deklarasi P-IJMA bertujuan memenangkan suara perempuan Indonesia kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo - Maruf Amin. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

    TEMPO.CO, Jember - Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin melakukan serangkaian kunjungan ke sejumlah pesantren di Kabupaten Jember sejak Kamis, 27 September 2018. Dalam kunjungan tersebut, Ma'ruf banyak berbicara ihwal ide dan gagasan membangun untuk kemajuan bangsa di samping juga menjawab sejumlah pertanyaan ihwal mengapa dirinya bersedia maju sebagai cawapres mendampingi Jokowi.

    Seperti yang dilakukan Ma'ruf Amin di Pondok Pesantren Nurul Islam, Jember pada Kamis siang kemarin, 27 September 2018. Dalam silaturahmi tersebut, Ma'ruf Amin menjawab keraguan sejumlah orang yang masih mempertanyakan mengapa dirinya bersedia maju sebagai cawapres. "Ada yang bertanya, Kiai Ma'ruf Amin sebenarnya kan sudah tua, mengapa maju cawapres," kata Ma'ruf.

    Baca: Mundur dari Rais Aam, Ma'ruf Amin: Saya Tetap Berjuang untuk NU

    Ma'ruf mengatakan bahwa ia memang tua, tapi Jokowi tetap memilihnya. "Siapa yang bilang muda. Semua orang tahu saya sudah tua. Pak Jokowi juga tahu saya sudah tua. Tapi Pak Jokowi tetap memilih saya walupun saya sudah tua. Berarti Pak Jokowi nyaman didampingi oleh orang tua," kata Ma'ruf di hadapan ulama serta para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember, pengurus Muslimat, pengurus fatayat hingga badan otonom NU.

    Ia pun membandingkan dirinya dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang menjabat pada usia 93 tahun. "Tapi ada juga yang mengatakan Kiai Ma'ruf Amin itu sebenarnya belum tua. Masih muda dibanding Mahatir Muhammad. Kalau Mahatir Muhamad 93 tahun, nah saya baru 75 tahun," kata dia.

    Baca: Ma'ruf Amin Akan Kunjungi 5 Pesantren di Jember

    Ma'ruf kemudian bercerita bagaimana pertemuannya dengan Mahathir Mohamad beberapa waktu lalu di Kuala Lumpur dan berbincang ihwal negara. "Saya berdiri di samping beliau. Dan betul, saya lebih muda dibanding Mahatir Muhamad. Karena itu, semangat muda saya tumbuh lagi meskipun sudah tua," kata dia.

    Ia jadi teringat sebuah pelajaran sewaktu Madrasah Ibtidaiyah. "Ada kisah orang tua menanam pohon. Lantas ada orang bertanya, kenapa sudah tua kok menanam pohon toh tidak akan bisa menikmati buahnya. Kemudian dijawab oleh orang tua itu, kalau dia menanam pohon bukan untuk dia, tetapi untuk generasi yang akan datang," kata Ma'ruf bercerita. Begitupula, kata Ma'ruf, dirinya yang telah memetik buah dari yang ditanam kakek, ayahnya dan generasi terdahulu.

    Baca: Survei: Publik Percaya Ma'ruf Amin Bisa Menekan Politik Identitas

    Seperti perumpamaan dalam cerita itu, Ma'ruf pun mengatakan bahwa ia akan bekerja untuk para generasi milenial. "Saya katakan saya akan bekerja bukan untuk saya tetapi untuk generasi muda milenial," ujarnya.

    Ma'ruf Amin pun memberikan sebuah motivasi kepada para santri untuk tidak berkecil hati dan rendah diri karena mereka bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. "Ternyata santri bisa jadi menteri bahkan bisa jadi presiden. Gus Dur itu juga santri bisa jadi presiden. Saya juga santri bisa jadi calon wakil presiden," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?