Tak Ingin Ada Kubu Cebong dan Kampret, Ini Usulan Timses Jokowi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris jenderal atau sekjen dari sembilan partai koalisi pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi di pilpres 2019, berkumpul di Posko Cemara, Menteng, Senin, 6 Agustus 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Sekretaris jenderal atau sekjen dari sembilan partai koalisi pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi di pilpres 2019, berkumpul di Posko Cemara, Menteng, Senin, 6 Agustus 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin, Aria Bima, mengklaim koalisinya tidak akan menggunakan negative campaign, apalagi black campaign, untuk memenangi pemilihan presiden 2019.

    Baca: Jokowi ke Jawa Timur Bagikan Sertifikat dan Blusukan ke Pesantren

    Sebab, Aria mengaku memiliki pengalaman sebagai tim media center Jokowi-Jusuf Kalla dalam pemilu 2014, dan ternyata masyarakat Indonesia belum siap dengan negative campaign, apalagi black campaign.

    "Masyarakat kita terpecah belah. Lihat saja, efeknya cebong dan kampret hidup sampai empat tahun," ujarnya di Posko Cemara, Kamis, 6 September 2018.

    Karena itu, Aria mengatakan sudah mengusulkan pertemuan antar-timses secara periodik untuk mencegah black campaign, yang memecah belah masyarakat akibat pilpres.

    "Saya sudah usul ke Pak Hasto Kristiyanto (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan juga sudah ngomong dengan Ferry Juliantono (Gerindra) soal pertemuan antar-timses ini. Pak Hasto sudah sepakat, dan Ferry juga rasanya sudah sepakat," ucapnya.

    Baca: 8 Gubernur Baru yang Dukung Jokowi, Begini Alasannya

    Dengan adanya pertemuan kedua kubu ini dan perjanjian untuk tidak menggunakan black campaign, Aria melanjutkan, pemilihan umum akan berlangsung sejuk dan damai. Sebab, kata dia, ada pihak-pihak yang kerap mengambil keuntungan dari pertarungan kedua kubu tersebut.

    "Kerap muncul narasi-narasi tak layak yang menyudutkan salah satu pihak, padahal dari kedua kubu ini enggak ada yang melakukannya," tuturnya.

    Dengan usul tersebut, Aria berharap tidak ada perpecahan di tengah masyarakat yang terjadi akibat pemilu. "Jadi pemimpin yang menang nanti tidak ada pemimpin cebong atau kampret. Tidak ada yang menang, adanya yang lebih unggul. Kami sepakat yang menang adalah rakyat," kata Aria.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.