Siapa Capres Jahat Seperti Tertulis di Spanduk? Ini Kata Demokrat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo bersama anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD (kiri), tertawa bersama saat keluar dari gedung KPK pada Senin, 25 Juni 2018. Kedatangan Mahfud ke KPK untuk memenuhi undangan halalbihalal Idul Fitri serta menjadi pembicara mengenai wawasan beragama dan kebangsaan. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua KPK Agus Rahardjo bersama anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD (kiri), tertawa bersama saat keluar dari gedung KPK pada Senin, 25 Juni 2018. Kedatangan Mahfud ke KPK untuk memenuhi undangan halalbihalal Idul Fitri serta menjadi pembicara mengenai wawasan beragama dan kebangsaan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Jansen Sitindaon enggan mengaitkan pesan dalam spanduk bertuliskan "Jangan Pilih Capres Jahat" yang dipasang di kawasan Jakarta Pusat pekan ini, dengan pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD beberapa hari lalu.

    Selain itu, Jansen juga tidak mau menduga-duga siapa yang dimaksud mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD sebagai "calon presiden jahat" dalam pernyataannya tersebut. "Pernyataan itu tidaklah tepat disampaikan dalam konteks pilpres 2019 ini," kata Jansen melalui pesan teks kepada Tempo, Rabu, 22 Agustus 2018. 

    Baca: Ini yang Dimaksud Mahfud MD Menghindari Pemimpin Jahat Berkuasa

    Dalam acara pembekalan bakal caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Balai Sarbini pada Senin, 20 Agustus 2018 lalu, Mahfud berpesan agar publik tidak golput pada pilpres nanti. Dia meminta hak pilih digunakan agar orang jahat tak terpilih. 

    Orang yang dirujuk oleh pesan itu, kata Jansen, tentulah salah satu di antara dua bakal calon presiden yang ada, yakni Joko Widodo atau Prabowo Subianto. "Tapi saya kira bukan Pak Prabowo orang jahatnya, karena Pak Mahfud sendiri kan pernah jadi ketua tim sukses Prabowo di Pilpres 2014."

    Simak: juga: Soal Orang Jahat yang Disebut Mahfud MD, Sandiaga: Semuanya Baik

    Pernyataan Mahfud MD itulah yang kemudian dikutip dan dijadikan tulisan dalam spanduk yang tersebar di kawasan Jakarta Pusat, di antaranya di jembatan penyeberangan orang (JPO) Kramat Sentiong, Senen dan Cempaka Putih. Spanduk itu bertuliskan besar-besar "JANGAN PILIH CAPRES JAHAT" disertai keterangan -Masyarakat Anti Golput" di bawahnya. Di sisi kanan spanduk, terdapat gambar surat suara dengan logo Komisi Pemilihan Umum.

    Jansen berpendapat narasi tentang pemimpin baik dan jahat ini seharusnya dihindari menjelang pemilihan presiden ini. Menurut dia, narasi-narasi itu tidak membangun kompetisi politik yang sehat, tetapi justru menimbulkan provokasi, dan menghakimi. "Kita ingin pilpres kali ini sejuk, mari kita jauhkan sumber panas yang tak penting," ujar bakal calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Sumatera Utara III ini.

    Konteks jahat itu, kata dia, sebenarnya lebih tepat diujikan kepada orang yang sudah atau tengah memimpin pemerintahan saat ini. Kata Jansen, masyarakat dapat menilai kepemimpinan pemerintah saat ini terutama di sektor ekonomi. "Semua hal ini tentu belum bisa kita ujikan ke Pak Prabowo. (Tapi) Ke Pak Jokowi yang sedang menjadi presiden," ucap Jansen.

    Jansen meminta Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilihan Umum segera menertibkan spanduk itu. "Untuk spanduk-spanduk provokatif terkait pemimpin baik dan jahat yang sudah kadung bertebaran di jalan, kami meminta kepada penyelenggara dan pengawas pemilu untuk segera menertibkannya," kata Jansen

    Demokrat menyatakan penertiban itu penting demi terselenggaranya pemilihan umum yang damai dan sejuk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.